Momen mudik lebaran adalah saat yang pas untuk melakukan perjalanan berkendara. Disamping waktu libur yang panjang juga ada dana tambahan yang diperoleh setiap hari raya.
Kawah Putih Ciwidey
Sangat wajar jika dalam sebuah keindahan timbul ego-ego yang keluar dari dalam diri kami untuk sekedar berkata "Saya sudah pernah ke Kawah Putih".
Pesona Situ Patenggang
Situ Patenggang, danau dengan mitos yang melegenda, merefleksikan keabadian cinta..
We're not lost, We're on an adventure
Matahari mulai menerangi Jalan Raya Pelabuhan Jayanti. Rumah-rumah penduduk di belakang Pos Ronda yang kami pakai sudah menampakkan kegiatan rutinnya.
Curug Sawer
Sebuah air terjun di Cianjur mengucurkan airnya yang jernih pada laguna kecil di tepi jalan pada pegunungan berhawa sejuk.
Nusantaride National Dieng Rally (NNDR) 2012 adalah pertemuan para penggiat wisata sepeda motor dalam skala besar dengan tujuan untuk mempromosikan potensi wisata kendara roda dua di Indonesia.
Nusantaride National Dieng Rally 2012 - Teaser Video
Setelah sukses dalam pelaksaan Nusantaride Gathering Ranauescapade 23 Maret 2012 dan Pangandaranaway 6 April 2012, Nusantaride Forum kembali menggelar gathering bagi para penggiat wisata roda dua dengan tema:
Nusantaride National Dieng Rally 2012
Nusantaride National Dieng Rally (NNDR) Adalah bentuk nyata kepedulian Nusantaride untuk terus menumbuhkembangkan budaya Cinta tanah air dan mengenalkan keindahan Indonesia.
Program ini merupakan kegiatan swadaya bagi seluruh penggiat Nusantaride. Berbekal pengalaman gathering sebelumnya yang ternyata diikuti oleh ratusan peserta, Nusantaride National Dieng Rally akan menjadi puncak acara gathering untuk periode program 2012.
Tujuan NNDR 2012 adalah :
Mengenalkan keindahan Dieng dan daerah sekitar sebagai salah satu tujuan utama wisata berkendara roda dua.
Memperkenalkan cara cara mengurangi risiko kecelakaan saat mengendarai kendaraan bermotor melalui pengembangan gaya mengendarai yang baik dan sistematik.
Memberikan sumbangsih nyata untuk para penduduk sekitar daerah wisata dalam bentuk bakti sosial
Nusantaride The GPS Challenge Camp Cigintung 23-24 Juni 2012
Di masa 2 tahun wira-wirinya Nusantaride pada Juni 2012 ini, beberapa rekan berkenan menggagas acara kumpul-kumpul temu kangen di sebuah tempat (unknown) dengan alamat sebuah titik kordinat.
Acaranya sendiri sebenarnya tidak ada nama, tapi begitu Kang Dendy Julius meng-upload beberapa foto di FB Group dengan judul album GPS Challenge maka saya sebut saja gathering tersebut dengan judul sama 'The GPS Challenge'.
Acara yang digagas spontan ini infonya datang lewat japri, mungkin maksud teman-teman adalah format acara seperti ini - lokasi tujuan berupa titik koordinat tanpa titik kumpul (tikum) - masih bersifat trial atau coba-coba. Uji coba ini kemungkinan nantinya akan di-aplikasikan pada setiap acara gathering Nusantaride baik formal maupun informal. Makanya The GPS Challenge tidak diumumkan ke forum. Sehingga meskipun gagal, ada yang kesasar, atau sampai pada tempat yang salah, dan lain-lain hal yang bisa bikin badan keringet dingin, maka yang merasakan hanya segelintir orang saja. :)
Saya coba menutur dan merangkai kata tentang perjalanan saya dalam 'The GPS Challenge' menuju titik kordinat pertemuan yang diberikan.
Pada pesan yang saya terima, meeting point-nya adalah -6.74343, 107.14118. Seperti biasa kordinat tersebut saya copy-paste ke Goggle Earth. Dan sepertinya tidak jauh, terletak di utara kota Cianjur. Kemudian ada info lagi bahwa lokasi ada di Puri Gintung belakang Taman Bunga Nusantara, tampak semakin dekat menurut saya.
Dari Google Earth saya dapatkan perkiraan titik lokasi di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur. Apabila di-zoom maka akan menunjuk lokasi pada sebuah perkebunan pada jalan yang tidak terdaftar pada Google Earth/Maps.
Setelah semakin jelas posisinya, maka untuk rute, saya ambil arah Puncak lanjut Cipanas lalu belok kiri di Pacet atau Hanjawar. Bayangan saya, lokasinya pasti deretan vila-vila yang menjamur di Cipanas, mungkin Google belum meng-update petanya sehingga tak ada tanda-tanda ada vila atau rumah di titik tersebut. Kemudian saya putuskan keberangkatan adalah pada hari Sabtu Malam Minggu saja setelah urusan di rumah beres. Tak lupa saya plot lokasi pada GPS, navigasi rute selesai dan tinggal berangkat nanti malam. Semudah itukah?
Malam Minggu, pukul 8.30 lewat, Dreamer, Honda Tiger hitam saya mulai melaju start dari rumah di Jakarta Selatan. Seperti biasa, lalulitas Kota Jakarta dan Depok agak tersendat di malam panjang. Begitu pula Jalur menuju Kawasan Puncak dari Kota Bogor hingga pertigaan Mega Mendung.
Pukul 11 malam saya baru tiba di Puncak Pass. Saya sempatkan istirahat makan terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah setengah jam beristirahat, saya lanjut menuruni Puncak Pas menuju Cipanas. GPS mulai dinyalakan. Dan tepat sebelum Pasar Cipanas, arah GPS menunjuk ke kiri menuju Taman Bunga Nusantara.
Dari tempat ini, tujuan masih sekitar 14 km saja, sudah dekat, kata saya dalam hati. Saya ambil rute melalui Jalan Mariwati. Lalu lintas di jalan tersebut menjelang tengah malam itu sudah tampak sepi. Nyala lampu perumahan dan vila di sepanjang jalan menemani saya menyusur Mariwati. Udara pegunungan yang dingin mulai menembus badan.
Sekitar 8 Km, GPS memberi petunjuk arah belok kanan pada pertigaan menuju Lembah Karmel, tempat yang masih saya kenal, aman, sudah mau sampai.
Namun begitu melewati Vila Lembah Karmel, jalan mulai menanjak dan menanjak. Sepi dan gelap, nah perasaan mulai ketar-ketir juga. Hanya pepohonan dan gerbang-gerbang vila yang sepi dan tak ada orang untuk ditanya. GPS masih me-navigasi untuk terus berada di jalan tersebut hingga masuk sebuah perkampungan yang sepi. Hanya lampu rumah yang menyala dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing saja yang lalu-lalang. Waduh.
Keluar kampung jalan kembali gelap dan terus menanjak hingga kemudian terlihat rumah yang baru saja selesai mengadakan pengajian. Beberapa orang tampak melintas menyebrang jalan dan saya melaju pelan memberi kesempatan pada mereka memotong jalan saya. Saya stop tepat di hadapan orang-orang yang menyebrang tadi dan bertanya pada salah satunya.
"Kang, punten, kalau mau ke Puri Gintung bener ini jalannya?"
"Iya pak, jalan ini saja nanti pertigaan ambil yang lurus, nanti sampai Pajagan terus aja sampe ketemu pertigaan ambil yang kiri atau tanya aja lagi nanti di Pajagan."
"Nuhun Kang"
Saya ikuti petunjuk penduduk dan meneruskan perjalanan. Namun baru beberapa ratus meter, GPS menunjuk arah belok ke kanan padahal tadi penduduk menunjuk jalan yang lurus. Saya mulai bimbang padahal tinggal 5 km lagi menuju tujuan. Yang lurus jalannya gelap, jelek, dan kecil, sedang yang ke kanan jalan lebih lebar dan terang namun ada portal terbuka dan pos satpam yang tidak dijaga. Ini pasti jalan masuk ke vila, pikir saya, makanya Saya putuskan untuk mengikuti petunjuk penduduk.
Jalur yang saya ambil ini jalannya rusak dan berlubang, motor hanya dapat melaju perlahan. Saat itu jam sudah menunjuk lewat dari tengah malam. Di kanan kiri jalan tampak sawah dan ladang yang sepi, gelap menghitam. Kemudian jalan tersebut mulai masuk menembus hutan. Ah kenapa harus bertemu pohon-pohon besar di tengah malam buta yang sepi.
Saya beranikan diri untuk terus melintas. Saya coba mempercepat laju motor meski jalan rusak berlubang. Satu dua tikungan mulai saya lewati tapi masih saja hutan, pandangan arah kanan terhalang oleh ketinggian bukit.
Entah pada tikungan ke berapa, saya mendengar deru motor dan sekilas melihat terangnya lampu menyibak pepohonan, hati agak tenang, berarti jalan ini merupakan perlintasan yang sering dipakai. Mendekati tikungan terdengar suara klakson memberi tanda kehadirannya. Mungkin dilihat juga lampu motor saya menerangi pohon. Motor tersebut mulai terlihat keluar dari tikungan. Bukan satu, tapi dua motor mendekat dan semakin jelas. Oh, rupanya rekan Andenko 'Koko' Utama dan Rici Ludira Sakti, yang langsung berhenti saat itu juga. Saya salami keduanya, dan bertanya kenapa sudah pulang.
"Besok masih ada urusan Om, jadi mesti balik Jakarta nih.."
"Masih jauh nggak tempatnya? masih pada belum tidur kan?"
"3 km lagi Om, ditunggu kok, nanti kalau ketemu pertigaan Pesantren ambil kiri"
"Oke, terima kasih, hati-hati di jalan"
Saya lanjut pada jalan yang menurun memasuki perkampungan. Di kiri mulai terlihat lampu-lampu rumah. Di ujung turunan juga terlihat lampu-lampu rumah penduduk dan pertigaan. Saya ambil ke kiri, GPS kembali me-navigasi untuk terus. Hati tenang sesudahnya, jalannya sudah benar tampaknya.
Tak jauh dari situ perkampungan mulai terlihat. Meski pemukiman ini tampak padat namun tak ada satu orang pun terlihat di luar. Penduduk tentu sudah terlelap di peraduan. Benar-benar sepi. Bahkan di pertigaan yang menjadi pusat desa juga sepi tanpa terlihat ada kegiatan manusia.
Saya yakin ini Desa Pajagan seperti yang diterangkan penduduk yang tadi saya tanya. Makanya saya ambil jalan yang lurus keluar perkampungan yang ternyata kembali gelap pekat. Hanya langit malam dan lampu motor saya saja yang menerangi area tersebut.
Tampak perkebunan dengan pohon-pohon sebagai pagar menutupi perkebunan. Perasaan tak enak mulai menyambangi saya. Semakin saya ikuti jalan itu seperti semakin jauh dari kehidupan. Tanaman-tanaman berdaun lebar terlihat menyeramkan ketika daun-daunnya memantulkan kembali sorot lampu motor. Saya perhatikan GPS mulai berputar-putar penunjuk jalannya.
Saya jadi tidak yakin, soalnya pesantren yang Koko katakan tadi belum juga terlihat. Saya berhenti di tempat yang cukup terbuka. Tampak di kejauhan di sisi kanan kerlap-kerlip lampu perkampungan. Apakah saya salah arah di pertigaan Desa Pajagan tadi. Memang, titik kordinat -6.74343, 107.14118 yang dikirim ke saya tidak menunjuk pada jalan terdaftar. Makanya saya ambil kesimpulan, sebenarnya saya sudah dekat pada tujuan.
Daripada berlama-lama di tempat sepi yang membuat badan merinding mending lanjut terus saja. Kalau tak ketemu pun paling juga nembus ke Cianjur atau Jalur Jonggol, demikian pikir saya.
Dan perjalanan saya lanjutkan pada jalan yang mulai menanjak. Tak lama kemudian terlihat gerbang tertutup berwarna hijau yang diterangi lampu. Ketemu juga dengan pesantren dimaksud. Sementara di sisi kiri pada arah jalan yang menanjak terlihat ada lampu-lampu rumah atau vila yang menjadi tujuan saya, Puri Gintung.
Puri Gintung adalah base dari Outbond Camp cigintung, berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Terlihat teras bawah beberapa motor yang saya kenal terparkir rapi. Beberapa rekan-rekan Nusantaride melambaikan tangannya pada saya. Kali ini saya benar-benar lega, sudah sampai ke tujuan pada pukul 1 dini hari.
"Woy... 'gak ada tempat yang lebih jauh lagi ya...?"
Teriakan saya disambut gelak tawa. Saya salami semua yang hadir, Pak Ija, Adet, Haryo, Luckay, Joe, Bowo, Julius, Icay. Rupanya rekan Icay juga belum lama tiba di situ.
Obrolan kembali berlanjut, diskusi dan cerita canda mengenai perjalanan masing-masing ke Puri Gintung. Ternyata masih ada satu rekan yang akan hadir juga, Yusra Inyiak. Terbayang oleh saya, bagaimana galaunya rekan yang masih dalam perjalanan ini. Yang saya tahu, tempatnya tidak sulit ditemui tapi tidak juga mudah jika ditempuh pada tengah malam begini. Pokoknya ikuti kata hati saja, pasti sampai. :)
Berikut adalah klip video pada saat pulang dari Camp Cigintung. Enjoy!
Setengah jam berlalu di jalan Ciemas - Neglasari, sampailah kami pada sebuah pertigaan dengan kordinat 7°9'55.89"S, 106°30'31.81"E. Di peta rute, kedua jalan ini sama-sama melewati Kampung Neglasari dan nantinya akan bertemu lagi di luar kampung menuju puncak Cimarinjung. Kami berhenti di situ memperkirakan jalan mana yang harus kami tempuh. Tak ada orang untuk ditanya, jadinya kami memilih yang arah kanan karena perkampungan tampak terlihat dari situ.
Begitu memasuki Kampung Neglasari, penduduk sama-sama melihat kami dengan antusias. Saya terus melaju perlahan pada jalan kampung berbatu yang kondisinya berbeda dengan jalan sebelumnya. Batu-batuannya mulai lepas di sana-sini dan jalan tampak menurun curam. Rekan Yance dengan Scorpio-nya menyusul dan mencoba menuruni jalan berbatu. Saya berhenti pada jalan yang sudah mulai menurun. Sambil tetap duduk pada sadel motor, saya mencoba membuka percakapan dengan penduduk sekitar mengenai maksud dan tujuan kami.
Sekali lagi dikatakan bahwa untuk melihat Curug Cimarinjung, kami harus kembali ke Ciemas dan lewat Taman Jaya kemudian menuju Desa Ciwaru. Saya perjelas lagi pada mereka bahwa tujuan kami hanya ingin melihat Ciwaru dari atas. Lalu mereka jawab: "Bisa Pak, keliatan kok nanti lautnya dari atas, tapi bukan lewat jalan ini melainkan jalan yang ke kiri sebelum masuk kampung". Ternyata jalan yang sedang kami coba lewati ini sudah lama terbengkalai dan jarang sekali dipakai penduduk sekitar. Waduh, agak kaget juga mendengarnya mengingat rekan Yance sudah jauh menuruni jalan dan terlihat memberi tanda supaya saya tidak turun.
Rekan Yance kemudian kembali ke tempat saya dan mengatakan jalannya rusak dan hancur. Namun posisi motor saya saat itu sudah ada di turunan jalan dan sulit untuk berbalik arah kecuali ditarik mundur agak jauh ke atas. Akhirnya kami putuskan untuk menuruni jalan itu saja, mempercayai ucapan penduduk bahwa jalan bisa dilewati hanya saja tepat di ujung turunan berbelok ini kondisinya rusak parah.
Dengan hati-hati saya menuruni jalan berbatu yang cukup merepotkan kerena selain menurun tajam juga agak berbelok. Saya harus mempertahankan roda tetap di atas bebatuan jangan sampai tergelincir ke permukaan tanah basah yang licin.
Sampai di area yang agak datar, tampak jalan di depan terlihat agak menyeramkan. Jalan sepanjang 20 meteran tersebut lebih curam dari yang barusan kami lewati dan trek berbatu setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah kondisinya basah dan licin. Scorpio mencoba turun dan tiba di bawah dengan selamat. Agak ragu saya menuruninya, mengingat handicap saya ada pada jejakan kaki yang pas-pasan. Kalau selip di badan jalan masih bisa kami angkat motornya tapi kalau terperosok ke sisi jalan akan merepotkan. Akhirnya saya serahkan kendali motor tiger pada rekan Yance yang jejakan kakinya lebih tinggi dan untunglah selamat pula sampai ke bawah.
Jalur selanjutnya tetap sangat menyulitkan, yakni jalan berbatu dan menanjak. Hati-hati kami menyusur jalur berbatu yang sudah ditumbuhi rerumputan dengan kondisi sisi kanan kiri jalan yang tertutup alang-alang cukup tinggi.
Pukul 17.00 wib sampai juga kami pada pertigaan yang menyatukan kembali dengan jalur yang satunya lagi. Kami berhenti di depan sebuah rumah, saya turun dari motor dan menyapa Bapak Dedi si pemilik rumah, yang dengan ramah menanyakan dari mana dan mau kemana tujuan kami. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa jalan yang barusan kami lewati sudah jarang dilalui kendaraan, penduduk sekitar memanfaatkan jalan yang satunya lagi yang kebetulan tidak kami pilih.
Di pertigaan Pal Tilu, pada kordinat: 7°7'4.53"S, 106°35'43.41"E, kami belok ke kanan memasuki area perkebunan teh menuju Desa Ciemas.
Meski rusak di sana-sini, jalan perkebunan masih lumayan bagus untuk dilewati. Apalagi sekeluarnya dari pemukiman terpadat di Ciemas tampak jalan beraspal hitam yang mulus dan menggoda pengendara menambah kecepatan. Kami mencari pertigaan menuju Kampung Neglasari, tapi tidak kami temukan, entah terlewat di mana atau malah sudah menjadi jalan perkebunan yang terbengkalai seperti yang banyak ditemui di Ciemas.
Saya ragu-ragu untuk terus menelusur jalur ini karena sudah agak jauh dari catatan yang kami buat. Dan kami putuskan untuk berhenti pada pertigaan yang ditandai dua papan nama perusahaan penambangan dan perkebunan pada kordinat 7°9'5.73"S, 106°32'39.45"E. Saya mencoba melihat pada Google Earth, pertigaan ini hanya berupa trek jalur perkebunan.
Untunglah kemudian terlihat pengendara motor keluar dari pertigaan yang kami perkirakan mengarah ke Neglasari. Saya bertanya pada pengendara motor tersebut dan bertanya ke mana arah ke Curug Cimarinjung. Awalnya Mang Ojen, demikian dia menyebut namanya, menunjuk arah terus di jalan yang mulus. Lalu saya bilang bahwa kami ingin melihat Teluk Ciletuh di Ciwaru dari ketinggian Cimarinjung. Agak ragu Mang Ojen menjawab bahwa jalan yang biasa ditempuh menuju Curug Cimarinjung di Desa Ciwaru adalah memilih jalan desa yang lebih bagus yang nantinya melewati Taman Jaya. Kalau arah ke kanan pada pertigaan ini memang bisa ke Cimarinjung melalui Girimukti atau Neglasari tapi kondisi jalannya hancur. Nanti dari Neglasari, akan terlihat Teluk Ciletuh dari puncaknya.
Informasi Mang Ojen bagaikan angin segar yang membangkitkan kembali semangat kami. Saya katakan memang jalur tersebut yang rencananya akan kami tempuh. Mang Ojen kemudian memberi petunjuk jalan menuju Neglasari, "Pokoknya ikuti saja jalan ini jangan belok-belok, nanti akan sampai di kampung saya Pak!" demikian ujarnya. "Saya ada keperluan di Ciemas, silahkan nanti bapak berdua kalau mau mampir ke rumah saya di Neglasari" tambahnya lagi.
Tak lupa kami mengucap terima kasih pada Mang Ojen sebelum lanjut menembus perkebunan karet menuju Kampung Neglasari. Cuaca mulai agak mendung saat itu, rupanya prediksi freemeteo pada Ujung Genteng dan Pelabuhan Ratu tidak berlaku. Area perkebunan Ciemas ini ada pada wilayah dan ketinggian yang berbeda. Setelah 2 km melewati perkebunan, hujan pun mulai turun. Kami berteduh di sebuah tempat pengumpul karet dan memanfaatkan waktu untuk istirahat sambil mengunyah makanan ringan.
Pukul 16.00, Tiger dan Scorpio kambali menderu ke arah selatan meneruskan jalur menuju Cimarinjung. Jalan ini sepi, hanya satu dua kendaraan yang berpapasan dengan kami. Jalan aspal mulai berganti dengan jalan berbatu yang cukup licin. Keluar dari area perkebunan terlihat hamparan daratan yang luas yang ditumbuhi alang-alang cukup tinggi. Jalan tanah dengan dua lajur berbatu masih tampak layak untuk dijalani kendaraan meski pengendara roda dua harus berhati-hati untuk selalu berada di atas jalur yang berbatu.
keunikan Kawasan Teluk Ciletuh yang area daratannya menyerupai bentuk sebuah amphitheater dan merupakan daerah penelitian batuan purba
Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 Episode 1
Sudah lama saya ter-obsesi untuk melihat Teluk Ciletuh dari ketinggian. Awalnya ketika sedang browsing Jalur Selatan Jawa Barat lewat Google Earth, saya meng-klik salah satu foto Panoramio yang terpampang di kawasan Teluk Ciletuh. Keindahan Teluk Ciletuh dan curug-curug di sekitarnya yang saya lihat melalui foto-foto tersebut seketika membuat saya terpesona. Saya sampaikan perihal lokasi ini pada rekan Yance dan mendapat respon yang positif. Secara tersirat saya tulis juga pada sebuah komentar di Facebook Group Nusantaride tentang keinginan menjelajah kawasan Teluk Ciletuh ini. Tinggal soal waktu saja untuk melaksanakannya.
Segera saya mencari referensi via internet mengenai Ciletuh. Sayangnya hanya sedikit yang saya dapat. Kebanyakan artikel yang ada hanya mengulas keunikan Kawasan Teluk Ciletuh yang area daratannya menyerupai bentuk sebuah amphitheater dan merupakan daerah penelitian batuan purba. Justru hal tersebut semakin mendorong keinginan saya melihat kawasan ini.
Saat itu yang saya tahu, foto Teluk Ciletuh dan foto Curug Cimarinjung, meski jaraknya berdekatan tapi didapat dari dua jalur jalan yang berbeda apabila ditempuh dengan kendaraan. Makanya ketika saya buat jalur peta pada Google Maps adalah sbb:
Jalur pertama dari Ciemas menuju Puncak Cimarinjung untuk merekam Teluk Ciletuh dari ketinggian.
Jalur kedua adalah kembali ke Ciemas lalu ke Ciwaru untuk merekam Curug Cimarinjung.
Tanggal keberangkatan kami tetapkan 9-10 Juni 2012, sengaja tidak kami sampaikan ke Nusantaride Forum karena masih tentatif juga, takutnya pada hari H kami batal berangkat apabila masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Untunglah 2 hari menjelang keberangkatan tampak semakin positif. Saya sampaikan ke teman-teman via BB Group rencana ini dan Pak Reza A Patunru aka Pak Ija berkenan ikut.
Hari H
Jum'at, tanggal 8 Juni 2012, hujan deras mengguyur Jakarta, saya sempatkan untuk membuat jalur melalui Google maps. Selain itu jalur-jalur penting juga saya capture via Google Earth. Kordinat dicatat dan image-image-nya kami print untuk dibawa sebagai kelengkapan. Tak lupa juga saya tengok freemeteo.org untuk melihat kondisi cuaca di sekitar Ciletuh. Sayangnya hanya wilayah Ujung Genteng dan Pelabuhan Ratu saja yang terpantau dari freemeteo, saya anggap cukup dan kebetulan kedua area tersebut jauh dari hujan pada dua hari perjalanan nanti.
Sengaja saya beri judul perjalanan kali ini dengan nama Ekspedisi Teluk Ciletuh. Ekspedisi mengindikasikan bahwa trip perjalanan ini mempunyai tujuan khusus atau target yang harus dicapai, yakni merekam keindahan Teluk Ciletuh dari ketinggian dan mencoba menelusur jalur Ciemas menuju Puncak Cimarinjung yang jalurnya sama-sama belum kita ketahui kondisinya.
Rencana keberangkatan pukul 00.00 wib, terpaksa diundur karena pekerjaan rekan Yance belum tampak selesai. Dan keikutsertaan Pak Reza juga terpaksa batal karena ada keperluan keluarga yang lebih penting. Saya harap-harap cemas saat itu, mengingat jalur Ciawi - Cibadak yang selalu macet di siang hari. Untunglah akhirnya pukul 03.30, meski hujan masih turun rintik-rintik, rekan Yance tiba juga di rumah saya dan siap untuk berangkat.
Sabtu, 9 Juni 2010, dinihari menjelang Subuh yang dingin, perjalanan kami awali di bawah rintikan hujan, saya dengan Dreamer (Honda Tiger GL200R) dan Yance dengan Yamaha Scorpio melaju pada jalan yang masih sepi mengarah ke selatan. Jalan cukup lancar sampai Ciawi. Pukul 05.00 pagi, menjelang tanjakan sesudah Rancamaya, dari jauh terlihat antrian kendaraan besar dan sedangkan pada arah berlawanan tampak lengang. Kondisi yang cukup aneh apabila sepagi itu jalan ini sudah macet. Kami ikuti motor-motor yang melaju di sisi kanan. Dan kemacetan itu pun akhirnya menghentikan laju kendaraan roda dua karena tidak ada lagi ruang untuk menyusul. Proyek pelebaran jalan saat itu membuat lajur semakin sempit hanya pas untuk kendaraan besar saling berpapasan.
Pukul 7 kami lepas dari titik kemacetan dan jalan kembali lancar hingga Cibadak. Di Cibadak, kami belok kanan ke arah Pelabuhan Ratu. Sampai Terminal Cikembar kami istirahat kopi, tidur sebentar dan sekalian cek motor. Barulah pada jam 09.30 perjalanan kami lanjutkan, sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Ratu kami belok kiri melewati Jembatan Bagbagan menuju arah Ujung Genteng. Menjelang tengah hari kami sempatkan untuk istirahat makan siang di warung makan Sindang Heula di Kiaradua. Rupanya kantuk tak dapat lagi kami tahan. Di warung makan ini kami tertidur dan baru lanjut perjalanan pada pukul 14.00.
Jalur Pesisir Selatan Jawa Barat dari Pangandaran ke Sindangbarang
Pangandaranaway 6-8 April 2012 Episode 4
Masih di hari yang sama, Sabtu 7 April 2012. Lewat pukul 16:00 petang, Saya, Pak Ija, Icay, Tanto dan boncenger, mulai memacu motor masing-masing menuju Cimerak. Kami akan melewati Jalur Patah Hati, saya sebut begitu, karena dari lebih 20 peserta yang ikut Acara Pangandaranaway ini, hanya 4 rider yang mau lewat jalur ini. Apalagi semua sudah mendengar, rekan-rekan yang lewat jalur ini kemarin datang lebih lama 5 jam hingga 7 jam karena kondisi jalan yang buruk. Rekan Tanto adalah salah satu yang kemarin melewati jalur ini lewat Garut.
Hujan yang rintik semakin menderas. Posisi saya di depan, dengan asumsi laju saya tidak akan terlalu cepat, diikuti Tanto lalu Icay dan terakhir Pak Ija. Jalan beton lebar Cijulang Cimerak sebenarnya agak menggoda untuk menambah kecepatan. Namun turunnya hujan cukup menjadi halangan. Penglihatan menjadi terbatas. Dilema menutup kaca helm akan mengembun atau dibuka dapat terpaan hujan di wajah, membuat saya memilih membuka kaca helm, meski demikian pandangan memang jadi terbatas dalam melihat rintangan jalan.
Dalam guyuran hujan, kecelakaan tak dapat dihindarkan. Tepat di Jembatan Sungai Cibening, saya melihat lubang besar tepat pada lajur saya dan hamparan kerikil besar. Tak ada waktu untuk menghindar karena saat itu tepat berpapasan dengan mobil di lajur lain. Spontan saya menekan tuas rem depan dan belakang tanpa memperhitungkan posisi motor Tanto yang lumayan dekat di belakang saya. Motor dapat saya kendalikan meliwati celah tengah antara lobang dan hamparan kerikil, namun tidak demikian dengan motor Tanto. Serta merta melihat saya mengerem agak mendadak, Tanto mencoba menahan laju motornya secara spontan pula. Motor tak mampu dikendalikan karena melewati hamparan kerikil dan masuk ke lobang. Mega Pro bernama Cobra itu terjungkal ke sisi jalan setelah roda depan masuk ke lobang.
Saya sempat mendengar derit roda menyapu kerikil dan suara motor jatuh. Saya segera berhenti di atas jembatan Cibening, begitu pula yang lain. Dada seketika berdegup melihat rekan kami bersama boncenger Sang Istri tergeletak di sisi jalan. Tanto segera bangkit menolong Sang Istri yang tampak kesakitan. Kami tanyakan bagian mana dari tubuh yang terasa sakit. Dia menjawab dengan cara memegang salah satu lengannya. Yakin atas jawabannya, kami mengangkat istri Tanto ke tepian jalan.
Dalam hati saya berdoa, semoga tidak ada luka yang fatal. Namun istri Tanto tiba-tiba tak sadarkan diri. Kami bangkit bertanya di mana tempat pengobatan terdekat pada penduduk yang mencoba ikut menolong. Satu mobil pick-up saya berhentikan dan saya minta mengantar korban. Agak ragu Sang Sopir mobil pengangkut kayu mengangguk. Dan kami semua menuju tempat pengobatan, seorang dokter yang berpraktek di rumahnya.
Alhamdulillah, tidak ada luka fatal maupun luka dalam, kemungkinan syok akibat motor terjatuh. Tukang urut juga dipanggil untuk menolong Istri Tanto.
Hujan semakin deras, petir menggelegar seakan ingin memecah bumi. Si Empunya rumah adalah orang yang baik hati, kami disuguhi penganan dan teh hangat. Rekan Tanto memutuskan untuk kembali ke arah Banjar dan bersikeras agar kami tetap melanjutkan perjalanan ke arah Cipatujah. Kami setuju dan sepakat untuk terus lewat lintas pantai selatan. Ketika hari mulai gelap dan hujan tetap enggan pergi, saya, Pak Ija dan Icay meninggalkan Tanto dan Istri yang masih berteduh di rumah dokter. Saya merasa agak lega karena tidak terjadi sesuatu yang fatal.
Meski hujan menerpa tubuh dan wajah, kami lanjut ke arah barat menuju Cikalong. Selepas Cimerak, kondisi jalan mulai tidak bersahabat. Jalur rusak dan bongkahan batu tampak di sisi dan badan jalan. Hati-hati kami melewati jalan raya Kalapa Genep ini yang kadang naik dan menurun tajam. Air turut mengalir di tengah jalan sejajar roda motor. Kondisi jalan sangat gelap hanya diterangi lampu-lampu kendaraan yang lewat.
Badan saya sudah basah kuyup meski memakai jas hujan dan dingin mulai menyiksa. Kecepatan kendaraan hanya berkisar 20-40 km perjam. Sulit memastikan kondisi jalan yang agak lumayan karena badan jalan berlobang digenangi oleh air. Sesekali kami harus berhenti memberi jalan pada kendaraan yang berpapasan. Saya sempat mengisi tangki dengan eceran guna mengantisipasi kekurangan bahan bakar yang kian menipis.
Sebelum masuk Cikalong, kami istirahat di warung kecil sekedar menghangatkan badan sambil mereguk segelas kopi. Waktu menunjukkan lewat pukul 8 malam. Rasa lapar terasa menggelitik perut. Tapi dari tadi memang belum terlihat ada warung makan. Selagi istirahat, saya sempatkan mengganti pakaian dan melapisi tubuh dengan jaket. Lanjut dari situ sampai juga di Cikalong. Di SPBU pada jalan menuju Cipatujah, kami mengisi penuh tangki motor.
Tak lama setelah SPBU ada warung makan kecil di kiri jalan, kesempatan isi perut dan menghangatkan badan. Setengah jam beristirahat, perjalanan kami lanjutkan. Jalur Cikalong - Cipatujah kondisinya juga parah seperti sebelumnya. Badan jalan berlobang dan terkadang bagai seperti diparut roda traktor. Sulit sekali mengendalikan roda motor pada parut yang sejajar arah jalan. Hampir 3 jam kami tempuh untuk sampai Cipatujah.
Kota kecil Cipatujah di selatan Tasikmalaya ini mulai memperlihatkan kerlip lampunya. Hujan mulai mereda namun kota ini tampak sepi. Dari sini jalan menuju Cibalong tampak menghitam seperti aspal baru. Garis jalan masih terlihat putih terang. 2 rekan saya mulai memelintir handel gas dan melaju bak kesetanan. Wah, saya hanya melihat dua lampu di kejauhan. Jalan mulus selebar 8 meter ini jadi santapan nikmat setelah tadi disuguhi jalan rusak. Saya biarkan Pak Ija dan Icay menghilang dari pandangan. Saya tidak takut ketinggalan tetap di 80. Saya tahu tujuan saya dan nanti juga ditunggu. 14 km kira-kira panjang jalan dengan tikungan lebar yang asyik buat rebahan motor itu yang dilabas 2 rekan saya.
Memasuki perkebunan Mira Mare Cibalong desa Sancang, kondisi jalan mulus berubah menjadi jalan perkebunan yang penuh tambalan dan lipatan. Tapi masih lumayan dan masih dapat melarikan motor dengan mudah. Dua lampu motor berwarna merah mulai terlihat dan semakin mendekat. Namun suasana perkebunan dan hutan ini lumayan mencekam. Meski Rembulan bersinar menerangi sekitar, mulai terlihat dan terasa, sosok-sosok yang setia menunggui rumah peristirahatan kosong tak berlampu di kiri kanan jalan. Saya mencoba menerangi jalan dengan menyalakan lampu tambahan dan menambah kecepatan. Aneh, biasanya saya begitu sayang motor, tapi kali ini saya biarkan Si Dreamer melompat-lompat di gundukan. Pak Ija dan Icay juga seperti tidak mau mengurangi kecepatan semakin dikejar malah semakin menjauh.
Keluar perkebunan baru keduanya menurunkan kecepatan dan berhenti setelah melewati jembatan Sancang. Waktu 10 menit lagi menjelang tengah malam. Kami mampir di warung kecil memesan kopi sekaligus beristirahat. Kami habiskan sedikit hari yang tersisa mengobrol bersama pemilik warung dan seorang pekerja kontraktor menara komunikasi.
Sabtu 7 April 2012 pukul 07:00, saya terbangun mendengar suara rekan Mbot Gunawan yang rupanya baru saja tiba. Saya segera bergegas menuju ke kamar mandi membersihkan badan dan menemui Nusantara rider lain.
Bersama-sama beberapa rekan, langsung saja saya ke Pantai Batu Karas untuk melihat keindahan panorama alam yang tersaji di sini. Pada musim libur panjang, Pantai Batu Karas ramai dikunjungi wisatawan lokal dari kota. Tidak mengapa, kami pun berbaur dengan pengunjung lain menikmati kesejukan air laut dan memandangi ombak yang bergulung-gulung dan akhirnya menerpa pasir hitam di pantai. Beberapa rekan bahkan mencoba merenangi perairan dengan papan seluncur dan naik wahana permainan aksi Banana Boat yang dikelola penduduk sekitar.
Saya foto-foto saja keindahan sekitar dan kemudian menuju warung makan kecil bersama rekan-rekan untuk sarapan. Menu mie instan rebus cukuplah buat mengganjal perut di pagi itu. Makan sambil memandangi keindahan laut, dua kepuasan yang berbeda yang jarang kami satukan di tempat tinggal kami. Canda dan obrolan saling mengakrabkan satu sama lain.
Matahari mulai naik, terik pantai terasa menghangatkan kulit. Ada panggilan untuk kembali kumpul di homestay. Setelah hampir semua berkumpul kemudian rekan Rangga Bachri menyampaikan rasa terima kasih dan salut kepada teman-teman yang hadir pada acara Pangandaranaway ini. Yang diteruskan oleh Pak Ija mengenai acara gathering yang akan datang yang rencananya diadakan masih di Pulau Jawa dengan pola acara yang berbeda, yakni mengedepankan kepedulian sosial bagi masyarakat sekitar. Keseluruhan yang hadir setuju dengan rencana tersebut dan setuju pula jika nantinya akan dibentuk kepanitiaan yang melibatkan teman-teman Nusantaride.
Buat saya, rencana tersebut akan menjadi satu momen yang baik bagi Nusantaride dan selayaknya dikemas secara lebih terorganisir dalam sebuah tim.
Sebelum tengah hari, sambil menunggu saat kepulangan sore hari nanti, beberapa rekan memilih membenahi bawaan mereka dan beberapa ada yang akan mencoba track menuju Batu Nunggul. Batu Nunggul adalah sebuah pantai tersembunyi yang indah yang ditandai oleh sebuah monumen alam berupa batu karang yang berdiri tegak di depan pantai. Sayang saya tidak ikut, ada agenda lain, apalagi kalau bukan makan siang dan sekalian mau lihat jembatan Bambu yang diinfokan di FB Group Nusantaride.
Bersama rekan Pram, saya mengarah ke luar lokasi. Terlebih dulu saya bertanya dimana letak jembatan bambu tersebut di gerbang tiket Kawasan Batu Karas. Kami langsung bergerak menuju tempat yang dimaksud. Benar, ternyata ada jalan pintas yang dibuat untuk kebutuhan masyarakat sekitar yang akan ke Cijulang atau sebaliknya. Tadinya saya mau menjejaki dulu dengan kaki, namun melihat ada beberapa motor lalulang melintasi jembatan itu, jadi saya putuskan menelusurinya langsung menggunakan motor.
Awalnya agak ngeri juga melihat jembatan sepanjang -+30 meter dengan lebar 2 meter lebih yang terbuat dari anyaman bambu yang diikat pada tali baja ini melintasi sungai Cijulang yang airnya sedang banjir saat itu. Motor kami memakai boks di kiri kanan, cukup sempit jadinya lintasan ini. Perlahan mulai saya susuri jembatan itu dengan kecepatan rendah dan konstan, begitu sampai tengah, terasa aliran adrenalin saya menjalari sekujur badan ketika melihat arah samping sungai lebar berair deras. Saya fokus ke depan dan melaju hingga sisi lain jembatan. Rekan Pram juga tampak lancar melintasi jembatan unik ini. Saya teringat jembatan di Sawarna, secara panjang memang lebih jauh lintasan ini namun menurut saya Jembatan Gantung di Sawarna lebih mendebarkan karena lintasannya terbuat dari papan sehingga lebih mudah mengayun. Sementara jembatan Batu Karas - Cijulang ini terbuat dari anyaman bambu yang fleksibel meredam guncangan.
Dari lokasi jembatan, kami terus melaju menuju Gerbang Pemberangkatan ke Green Canyon (Cukang Taneuh). Rupanya saat itu Wisata Green Canyon sedang tutup karena hulu sungai Cijulang banjir akibat hujan sepanjang malam tadi. Kami memang tidak berniat ke situ tapi ingin menikmati makan siang di warung makan yang terletak di parkiran. Menu goreng ikan, tahu dan sambal pedas menjadi santapan nikmat siang itu.
Kami kembali ke homestay, tampak beberapa telah siap untuk meninggalkan Batu Karas. Sambil menunggu rekan-rekan Nusantara Rider lain bersiap, kami berdikusi soal kepulangan. Ada wacana untuk menelusur Jalur Kepulangan melewati Jalur Pantai Selatan Jawa Barat. Jadinya rombongan akan terpecah dua, satu melewati jalur reguler lewat Ciamis - Bandung - Jakarta dan satu group lagi akan menyusur jalur pantai selatan. Saya ikut group menyusur lintas pantai bersama Pak ija, Icay dan Tanto.
Motor-motor Nusantara rider yang berbagai jenis itu telah siap meninggalkan homestay. Saya sengaja start lebih dulu dengan maksud ingin mengambil gambar video kepulangan kami dari Batu Karas. Hujan mulai turun rintik-rintik. Saya menunggu di setiap tikungan jalan yang akan di lewati. Memasuki jalan menuju Jembatan Bambu Sungai Cijulang, saya mendahului antrian agar bisa mendapat gambar yang bagus. Turunnya hujan saat itu membuat saya sedikit khawatir terhadap licinnya lintasan anyaman bambu. Alhamdulillah semua dapat sampai ke seberang dengan selamat.
Dari sini group Nusantaride mengambil jalurnya masing-masing. Jalur reguler berbelok ke kanan dan lintas pantai selatan berbelok ke kiri.
Keindahan Dataran Tinggi Cikareo pada jalur Wado - Malangbong
Pangandaranaway 6-8 April 2012 Episode 2
Jum'at pagi 6 April 2012 pukul 6.15, Kota Sumedang sudah mulai ramai. Penjaja asongan terlihat berebut naik bis antar kota yang tertahan di lampu merah. Saya melaju terus di jalan Prabu Tajmalela yang mengarah ke jalur alternatif Wado - Malangbong. Di ujung pertigaan jalan ini, persis sebelum belok ke kiri arah Situraja. Saya stop di Kios Tambal Ban untuk cek tekanan angin roda depan. Si bapak untungnya mau juga saya minta untuk memeriksa kenapa ban depan motor saya selalu minta diisi. Alhamdulillah ketemu juga penyakitnya, rupanya pentil ban sudah patah minta diganti.
Selesai penggantian pentil roda depan, mata saya tidak dapat kompromi lagi. Saya tanya sama bapak penambal ban, siapa pemilik bangku panjang di pinggir warung, saya mau pakai buat istirahat tidur. Eh si bapak malah bilang, kalau mau tidur di warung kosong sebelah kios saya saja pak. Saya longok warung Tahu Sumedang tak berpintu yang ditunjuk oleh si bapak, aha, ternyata ada bale beralas tikar dan bantal kumal. Tak lupa berterima kasih pada si bapak, saya segera mengunci motor, membuka matras lalu rebah di bale warung itu. Sebentar saja, saya sudah terbuai mimpi.
Kira-kira 2 jam kemudian saya terbangun, sebotol air mineral habis untuk minum, berkumur, dan membasuh muka. Saat itu saya lihat, sebuah Pulsar Merah menderu dan menikung menuju Situraja. Sepertinya motor yang saya kenal. Semangat saya bangkit seketika, segera saya bersiap-siap, pakai helm dan sarung tangan. Motor saya nyalakan dan mulai melaju mengarah Kota Wado.
Siang menjelang dan langit tampak cerah. Pulsar warna merah yang saya yakin pemiliknya adalah Haryo Widodo tampak terlihat berkendara dengan boncengernya. Kebetulan di SPBU Situraja, mereka berhenti. Saya pun ikut pula berhenti. Kesempatan istirahat stop di SPBU seperti biasa saya manfaatkan untuk sekalian membersihkan badan. Ngobrol sebentar dengan Haryo dan berkenalan dengan boncengernya lalu saya pamit ke warung kopi di seberang SPBU mencari segelas kopi dan menghabiskan sebatang rokok. Saat itu saya lihat, 2 Nusantara Rider tampak pula masuk ke area SPBU. Rangga 'eRBe' Bachri plus boncenger dan Cahyadi 'Icay'Yusuf.
Saya kembali masuk ke SPBU, menyapa rekan-rekan dan berkenalan dengan boncenger RB. Meski ketemuan juga di sini dan memiliki tujuan yang sama, kami tetap bersepakat meneruskan perjalanan sendiri-sendiri. Haryo duluan meninggalkan kami, kemudian saya pamit jalan meninggalkan RB dan Icay.
Seperti Cagak - Sumedang, jalur alternatif Wado - Malangbong juga menyajikan pemandangan indah. Saya sempat berhenti sebentar mengambil gambar di ketinggian Cikareo sebelum lanjut ke tujuan.
Masuk Malangbong pada Jalur Selatan menuju Jawa Tengah, waktu telah menunjukkan pukul 11 siang dan lalulintas tampak dipadati kendaraan-kendaraan besar. Jalan yang menanjak menghambat laju kendaraan sejenis bis dan truk. Jalur cukup lebar sehingga roda 2 leluasa menyalip dari sisi kanan antrian. Cuaca mulai terik saat memasuki Kota Tasikmalaya, saya pilih lintas Cihaurbeti melabas jalan lebar menuju Ciamis.
Hujan mulai turun rintik-rintik pada awalnya, saya terus saja tanpa menghiraukan air yang jatuh membasahi pakaian. Kadang hujan berhenti sebentar lalu turun lagi agak deras. Saya putuskan beristirahat makan siang di sebuah warung nasi kecil di daerah Karang Mulyan. Satu jam saya habiskan untuk isi perut sambil menunggu hujan reda.
Motor kembali melaju di jalan mulus Ciamis Banjar, rombongan panjang klub-klub motor dari arah barat tampak pula mulai melintas ke arah timur. Saya berusaha ambil jarak untuk mendahului atau didahului oleh iring-iringan roda dua tersebut. Lengking klakson dan acungan jempol menjadi tanda salam dan keakraban.
Mendekati Kota Banjar, air kembali turun membanjiri tanah dan jalan yang saya lewati. Sisi selatan Jawa Barat rupanya memang sedang diliputi awan namun hujan turun secara berkala, kadang deras, kadang rintik. Saya kembali menepi untuk berteduh di tempat cucian motor. Kondisi hujan seperti ini membuat ragu pengendara roda 2 seperti kami untuk mengganti jaket dengan jas hujan. Rekan Haryo kebetulan ikut menepi pula di situ sebentar dan kemudian melanjutkan perjalanan.
Jalan di Kota Banjar tergenang air di sana-sini. Melewati Banjar kembali hujan turun, saya pilih untuk kembali menepi. Dan rupanya saya terkecoh juga oleh ulah hujan ini dimana dalam perjalanan menuju Banjarsari, tiba-tiba air bak ditumpahkan dari langit dan membuat saya basah kuyup. Tanggunglah, pikir saya, sembari terus melaju melawan derasnya hujan.
Di Banjarsari saya berhenti mengganti pakaian yang basah. Rekan RB, Icay, dan Haryo yang beberapa kali berpapasan mungkin sudah sampai di Pangandaran. Badan kembali hangat setelah mereguk kopi dan rasa ingin sampai membuat saya segera tancap gas menuju Pangandaran.
Tiba di gerbang Pangandaran sore itu, langit agak mendung tapi masih terlihat terang. Saya putuskan masuk Kawasan Wisata Pangandaran dan menghidupkan kamera GoPro milik om Yance yang terpasang pada helm. Rute jalan pantai timur lalu pantai barat sampai kembali ke pintu keluar dan lanjut menuju Cijulang.
Jalan Raya Cijulang kondisinya tidak seperti kunjungan saya yang lalu, lubang-lubang besar bagai perangkap menahan laju kendaraan yang melintas. Berkali-kali saya meliuk-liukan tubuh memilih badan jalan yang masih baik. Di selatan mendung tampak gelap. Hujan pasti akan turun, pikir saya. Untungnya jalan ke depan lumayan bisa buat menambah kecepatan. Sisi kanan jalan hancur tapi sisi kiri jalan masih mulus. Saya larikan motor secepat saya bisa demi mendahului hujan yang kemungkinan akan turun.
Selepas maghrib akhirnya sampai juga di kawasan wisata Batu Karas, saya lebih dulu menemui Icay di Bale Karang Cottages, tempat RB & Haryo menginap. Rasa lapar harus kami tahan lebih lama karena hujan mulai turun. Setelah reda barulah kami menuju resto tempat teman-teman Nusantaride berkumpul dan makan malam. Sepiring Nasi Goreng Seafood tandas ke perut, terasa nikmat makan pada saat lapar.
Sayangnya hujan kembali mengguyur deras dan menunda agenda kami untuk saling tukar pengalaman. Rencana mendirikan tenda pupus, saya pilih bergabung dengan teman-teman saja. Hampir pukul 10 malam, barulah kami semua dapat berkumpul di sebuah Homestay milik Ibu Yati yang terletak di kaki bukit Batu Karas. Ada kabar beberapa rekan Nusantara Rider baru akan tiba sebentar lagi dan bahkan ada yang masih dalam perjalanan menuju Batu Karas. Mudah-mudahan semuanya bisa tiba dengan selamat di lokasi, kami menunggu kedatangan kalian.
Obrolan tukar pengalaman diselingi canda membuat kami jadi asik mendengarkan. Tak terasa jam sudah menunjuk ke pukul 3 dini hari, Kami yang masih tersisa saat itu sepakat mengakhiri percakapan untuk beristirahat, tidur dan melepas penat.
Masih di jalur alternatif penghubung pantura ini, di KM15, saya memperlambat laju motor sesaat melihat di depan banyak kendaraan roda dua menepi di kiri kanan jalan. Rupanya terjadi kecelakaan tunggal, sebuah sepeda motor berboncengan dari arah Indramayu jatuh di tikungan dan menghantam pohon di sisi jalan. Walau sudah banyak yang berhenti untuk menolong, kami tetap ikut berhenti melihat keadaan korban. Untungnya tidak ada luka berarti, hanya baret-baret saja. Anehnya, dalam 30 menit terjadi lagi 3 kecelakaan serupa pada tikungan yang sama. 4 motor yang jadi korban, 2 masih bisa dikendarai sedang 2 lainnya harus dibawa ke bengkel. Saya dan istri menunggu selama 2 jam di tempat kejadian menemani para korban dan membantu mencarikan mobil bak buat mengangkut motor ke bengkel.
Sebelum beranjak dari lokasi yang aneh ini, saya coba jalanin jalur tersebut. Saya perhatikan, tikungan tidak terlalu tajam tapi permukaan jalan kemiringannya hampir rata dan sisi jalan jauh lebih tinggi dari permukaan tanah sehingga terlihat seperti lubang. Sementara analisa saya secara logika, kemungkinan saat pengendara memasuki tikungan, ada kecenderungan tekor akibat kemiringan jalan kemudian kaget melihat sisi jalan yang menganga dan spontan mengerem laju kendaraan yang hasilnya malah motor sulit untuk dibelokkan. Sayang saya terlupa menurunkan kamera untuk merekam suasana jalan tersebut.
Hasil tanya-tanya dengan penduduk setempat, katanya tikungan tersebut sudah terkenal keangkerannya, terutama di sebuah pohon besar di sisi jalan. Mereka bahkan mengatakan, hari kemarin disaat jalur padat malah 10 pengendara motor yang terperosok. Dulu ada rambu peringatan bahaya tapi sudah dicabut oleh tangan-tangan jahil. Waduh!
Sebenarnya 1 km dari situ ada jalan tembus menuju Buah Dua, namun saya putuskan untuk melewati jalur tersebut hingga Cikawung. Lewat sini, kami temui jalan beton yang lurus sepanjang 10 km. Sampai Cikawung ambil jalur yang ke kanan ke arah Cijelag menuju Sumedang.
Di jalan Cijelag memasuki Ujung Jaya, kami belok ke kanan ambil jalan pintas menuju Conggeang. Lumayan mempersingkat jalan ketimbang melewati pertigaan Cijelag masuk Tomo dan belok kanan di Legok untuk kemudian menuju Conggeang. Ternyata jalan ini rusak berlobang tapi masih bisa dijalani roda dua dengan kecepatan sedang. Tak jauh dari pertigaan Ujung Jaya, saya melihat jalan bercabang, di kanan jalan ada jalan tanah agak mananjak yang menggoda untuk di lewati. Kebiasaan penduduk/petani di sana membuat jalan pintas melalui ladang dan hutan jati. Tanpa tanya-tanya boncenger, saya masuki jalan tanah tersebut hingga menaiki bukit. Tapi kok jalan ini terus membelok dan arahnya ke utara lagi sedangkan tujuan kami ke selatan. Daripada sia-sia, apalagi sudah terlambat tiba ditujuan dan belum sungkeman dengan mertua. Saya balik arah lagi menuju jalan tadi.
Kami kembali menelusur jalan aspal berlobang menuju Conggeang. Jalan yang kering berdebu dalam cuaca terik panas serta melewati hutan-hutan jati dan ladang-ladang yang kering, membuat kami ingin segera sampai tujuan. Kondisi ekstrim di sini nanti akan berbeda setelah memasuki wilayah kaki Gunung Tampomas yang subur. Sampai di pertigaan pasar Conggeang, kami belok ke kanan ke arah Buah Dua. Kami sampai di tujuan hampir pukul 10 siang. Perjalanan yang biasa kami tempuh selama 4 jam tapi kali ini melorot hingga 7 jam. Tapi kami puas, karena ada hikmah dan pelajaran yang dapat kami ambil.
Tambahan foto: sesuatu yang sulit kita dapatkan di kota: