Me_sulis
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts
Showing posts with label Jawa Barat. Show all posts

Thursday, July 5, 2012

The GPS Challenge Camp Cigintung

Nusantaride The GPS Challenge Camp Cigintung 23-24 Juni 2012

Di masa 2 tahun wira-wirinya Nusantaride pada Juni 2012 ini, beberapa rekan berkenan menggagas acara kumpul-kumpul temu kangen di sebuah tempat (unknown) dengan alamat sebuah titik kordinat.

Acaranya sendiri sebenarnya tidak ada nama, tapi begitu Kang Dendy Julius meng-upload beberapa foto di FB Group dengan judul album GPS Challenge maka saya sebut saja gathering tersebut dengan judul sama 'The GPS Challenge'.

Acara yang digagas spontan ini infonya datang lewat japri, mungkin maksud teman-teman adalah format acara seperti ini - lokasi tujuan berupa titik koordinat tanpa titik kumpul (tikum) - masih bersifat trial atau coba-coba. Uji coba ini kemungkinan nantinya akan di-aplikasikan pada setiap acara gathering Nusantaride baik formal maupun informal. Makanya The GPS Challenge tidak diumumkan ke forum. Sehingga meskipun gagal, ada yang kesasar, atau sampai pada tempat yang salah, dan lain-lain hal yang bisa bikin badan keringet dingin, maka yang merasakan hanya segelintir orang saja. :)

Saya coba menutur dan merangkai kata tentang perjalanan saya dalam 'The GPS Challenge' menuju titik kordinat pertemuan yang diberikan.

Pada pesan yang saya terima, meeting point-nya adalah -6.74343, 107.14118. Seperti biasa kordinat tersebut saya copy-paste ke Goggle Earth. Dan sepertinya tidak jauh, terletak di utara kota Cianjur. Kemudian ada info lagi bahwa lokasi ada di Puri Gintung belakang Taman Bunga Nusantara, tampak semakin dekat menurut saya.



Dari Google Earth saya dapatkan perkiraan titik lokasi di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur. Apabila di-zoom maka akan menunjuk lokasi pada sebuah perkebunan pada jalan yang tidak terdaftar pada Google Earth/Maps.



Setelah semakin jelas posisinya, maka untuk rute, saya ambil arah Puncak lanjut Cipanas lalu belok kiri di Pacet atau Hanjawar. Bayangan saya, lokasinya pasti deretan vila-vila yang menjamur di Cipanas, mungkin Google belum meng-update petanya sehingga tak ada tanda-tanda ada vila atau rumah di titik tersebut. Kemudian saya putuskan keberangkatan adalah pada hari Sabtu Malam Minggu saja setelah urusan di rumah beres. Tak lupa saya plot lokasi pada GPS, navigasi rute selesai dan tinggal berangkat nanti malam. Semudah itukah?

Malam Minggu, pukul 8.30 lewat, Dreamer, Honda Tiger hitam saya mulai melaju start dari rumah di Jakarta Selatan. Seperti biasa, lalulitas Kota Jakarta dan Depok agak tersendat di malam panjang. Begitu pula Jalur menuju Kawasan Puncak dari Kota Bogor hingga pertigaan Mega Mendung.

Pukul 11 malam saya baru tiba di Puncak Pass. Saya sempatkan istirahat makan terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah setengah jam beristirahat, saya lanjut menuruni Puncak Pas menuju Cipanas. GPS mulai dinyalakan. Dan tepat sebelum Pasar Cipanas, arah GPS menunjuk ke kiri menuju Taman Bunga Nusantara.

Dari tempat ini, tujuan masih sekitar 14 km saja, sudah dekat, kata saya dalam hati. Saya ambil rute melalui Jalan Mariwati. Lalu lintas di jalan tersebut menjelang tengah malam itu sudah tampak sepi. Nyala lampu perumahan dan vila di sepanjang jalan menemani saya menyusur Mariwati. Udara pegunungan yang dingin mulai menembus badan.

Sekitar 8 Km, GPS memberi petunjuk arah belok kanan pada pertigaan menuju Lembah Karmel, tempat yang masih saya kenal, aman, sudah mau sampai.

Namun begitu melewati Vila Lembah Karmel, jalan mulai menanjak dan menanjak. Sepi dan gelap, nah perasaan mulai ketar-ketir juga. Hanya pepohonan dan gerbang-gerbang vila yang sepi dan tak ada orang untuk ditanya. GPS masih me-navigasi untuk terus berada di jalan tersebut hingga masuk sebuah perkampungan yang sepi. Hanya lampu rumah yang menyala dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing saja yang lalu-lalang. Waduh.

Keluar kampung jalan kembali gelap dan terus menanjak hingga kemudian terlihat rumah yang baru saja selesai mengadakan pengajian. Beberapa orang tampak melintas menyebrang jalan dan saya melaju pelan memberi kesempatan pada mereka memotong jalan saya. Saya stop tepat di hadapan orang-orang yang menyebrang tadi dan bertanya pada salah satunya.

"Kang, punten, kalau mau ke Puri Gintung bener ini jalannya?"
"Iya pak, jalan ini saja nanti pertigaan ambil yang lurus, nanti sampai Pajagan terus aja sampe ketemu pertigaan ambil yang kiri atau tanya aja lagi nanti di Pajagan."
"Nuhun Kang"

Saya ikuti petunjuk penduduk dan meneruskan perjalanan. Namun baru beberapa ratus meter, GPS menunjuk arah belok ke kanan padahal tadi penduduk menunjuk jalan yang lurus. Saya mulai bimbang padahal tinggal 5 km lagi menuju tujuan. Yang lurus jalannya gelap, jelek, dan kecil, sedang yang ke kanan jalan lebih lebar dan terang namun ada portal terbuka dan pos satpam yang tidak dijaga. Ini pasti jalan masuk ke vila, pikir saya, makanya Saya putuskan untuk mengikuti petunjuk penduduk.

Jalur yang saya ambil ini jalannya rusak dan berlubang, motor hanya dapat melaju perlahan. Saat itu jam sudah menunjuk lewat dari tengah malam. Di kanan kiri jalan tampak sawah dan ladang yang sepi, gelap menghitam. Kemudian jalan tersebut mulai masuk menembus hutan. Ah kenapa harus bertemu pohon-pohon besar di tengah malam buta yang sepi.

Saya beranikan diri untuk terus melintas. Saya coba mempercepat laju motor meski jalan rusak berlubang. Satu dua tikungan mulai saya lewati tapi masih saja hutan, pandangan arah kanan terhalang oleh ketinggian bukit.

Entah pada tikungan ke berapa, saya mendengar deru motor dan sekilas melihat terangnya lampu menyibak pepohonan, hati agak tenang, berarti jalan ini merupakan perlintasan yang sering dipakai. Mendekati tikungan terdengar suara klakson memberi tanda kehadirannya. Mungkin dilihat juga lampu motor saya menerangi pohon. Motor tersebut mulai terlihat keluar dari tikungan. Bukan satu, tapi dua motor mendekat dan semakin jelas. Oh, rupanya rekan Andenko 'Koko' Utama dan Rici Ludira Sakti, yang langsung berhenti saat itu juga. Saya salami keduanya, dan bertanya kenapa sudah pulang.

"Besok masih ada urusan Om, jadi mesti balik Jakarta nih.."
"Masih jauh nggak tempatnya? masih pada belum tidur kan?"
"3 km lagi Om, ditunggu kok, nanti kalau ketemu pertigaan Pesantren ambil kiri"
"Oke, terima kasih, hati-hati di jalan"

Saya lanjut pada jalan yang menurun memasuki perkampungan. Di kiri mulai terlihat lampu-lampu rumah. Di ujung turunan juga terlihat lampu-lampu rumah penduduk dan pertigaan. Saya ambil ke kiri, GPS kembali me-navigasi untuk terus. Hati tenang sesudahnya, jalannya sudah benar tampaknya.

Tak jauh dari situ perkampungan mulai terlihat. Meski pemukiman ini tampak padat namun tak ada satu orang pun terlihat di luar. Penduduk tentu sudah terlelap di peraduan. Benar-benar sepi. Bahkan di pertigaan yang menjadi pusat desa juga sepi tanpa terlihat ada kegiatan manusia.

Saya yakin ini Desa Pajagan seperti yang diterangkan penduduk yang tadi saya tanya. Makanya saya ambil jalan yang lurus keluar perkampungan yang ternyata kembali gelap pekat. Hanya langit malam dan lampu motor saya saja yang menerangi area tersebut.

Tampak perkebunan dengan pohon-pohon sebagai pagar menutupi perkebunan. Perasaan tak enak mulai menyambangi saya. Semakin saya ikuti jalan itu seperti semakin jauh dari kehidupan. Tanaman-tanaman berdaun lebar terlihat menyeramkan ketika daun-daunnya memantulkan kembali sorot lampu motor. Saya perhatikan GPS mulai berputar-putar penunjuk jalannya.

Saya jadi tidak yakin, soalnya pesantren yang Koko katakan tadi belum juga terlihat. Saya berhenti di tempat yang cukup terbuka. Tampak di kejauhan di sisi kanan kerlap-kerlip lampu perkampungan. Apakah saya salah arah di pertigaan Desa Pajagan tadi. Memang, titik kordinat -6.74343, 107.14118 yang dikirim ke saya tidak menunjuk pada jalan terdaftar. Makanya saya ambil kesimpulan, sebenarnya saya sudah dekat pada tujuan.

Daripada berlama-lama di tempat sepi yang membuat badan merinding mending lanjut terus saja. Kalau tak ketemu pun paling juga nembus ke Cianjur atau Jalur Jonggol, demikian pikir saya.

Dan perjalanan saya lanjutkan pada jalan yang mulai menanjak. Tak lama kemudian terlihat gerbang tertutup berwarna hijau yang diterangi lampu. Ketemu juga dengan pesantren dimaksud. Sementara di sisi kiri pada arah jalan yang menanjak terlihat ada lampu-lampu rumah atau vila yang menjadi tujuan saya, Puri Gintung.

Puri Gintung adalah base dari Outbond Camp cigintung, berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Terlihat teras bawah beberapa motor yang saya kenal terparkir rapi. Beberapa rekan-rekan Nusantaride melambaikan tangannya pada saya. Kali ini saya benar-benar lega, sudah sampai ke tujuan pada pukul 1 dini hari.

"Woy... 'gak ada tempat yang lebih jauh lagi ya...?"

Teriakan saya disambut gelak tawa. Saya salami semua yang hadir, Pak Ija, Adet, Haryo, Luckay, Joe, Bowo, Julius, Icay. Rupanya rekan Icay juga belum lama tiba di situ.

Obrolan kembali berlanjut, diskusi dan cerita canda mengenai perjalanan masing-masing ke Puri Gintung. Ternyata masih ada satu rekan yang akan hadir juga, Yusra Inyiak. Terbayang oleh saya, bagaimana galaunya rekan yang masih dalam perjalanan ini. Yang saya tahu, tempatnya tidak sulit ditemui tapi tidak juga mudah jika ditempuh pada tengah malam begini. Pokoknya ikuti kata hati saja, pasti sampai. :)





Berikut adalah klip video pada saat pulang dari Camp Cigintung. Enjoy!












Ride The Archipelago

Wednesday, June 27, 2012

Pulang Kembali Ke Jakarta - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 9

Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 - Episode 9


Rasanya ingin terus menjelajah wilayah selatan Sukabumi, tapi esok kami harus kembali berkarya. Sebelum mengarah pulang, kami istirahat dulu menyelesaikan makan siang yang tertunda di warung makan Rhaisa yang terletak di pertigaan di pusat desa Ciwaru.



Saatnya kami dari Jakarta berpisah dengan teman-teman yang ramah penduduk Desa Neglasari. Kami saling berjabat tangan dan semoga dapat bertemu lagi di lain kesempatan. Terima kasih Erik, Beben dan Zaenal, tanpa kalian belum tentu perjalanan kami kali ini menjadi lengkap.

eh motor saya sekalian di-cuci-in ya Nenk...


Pukul 17.00 wib, saya dan rekan Yance mengarah keluar Ciwaru menuju Kiaradua lewat Taman Jaya, Sukamukti dan Waluran.



Hari telah berganti malam saat melewati jalur Ujung Genteng menuju Pelabuhan Ratu. Sampai  di pertigaan Kiaradua - Lengkong untuk beristirahat santap kopi .



Rute  Ciwaru ke Cibadak



Sungguh hari yang melelahkan sekaligus menyenangkan buat kami. Semoga masih ada hari esok buat kami untuk dspst kembali menjelajah tempat-tempat eksotis lainnya.

Ride the Archipelago!

Kembali ke Curug Cikanteh - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 8

Tuesday, June 26, 2012

Curug Cikanteh - Eskpedisi Teluk Ciletuh Episode 8

Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 - Episode 8


Jalan sejajar pantai adalah jalan terbagus di Ciwaru. Dari jalan ini baik Curug Cimarinjung, Curug Cikanteh dan Curug Ngelai bisa dilihat dari kejauhan.



Untuk menuju Cikanteh, kami kembali ke arah Cimarinjung. Melewati jalan pedesaan yang beragam kondisinya. Dan yang menyejukkan saat itu adalah pemandangan sawah yang padi-padinya mulai meninggi, hijau di kanan kiri jalan.



Rute Cimarinjung ke Cikanteh



Sesampainya di pusat Desa Ciwaru, pada kordinat 7°11'40.11"S, 106°28'49.76"E, kami belok kiri menyusuri jalan yang mengarah ke mendekati tebing.

Tampak Curug Ngelai di sebelah kiri dan Curug Cikanteh di sebelah kanan





Dari jalan ini begitu sampai pada aliran irigasi dengan Lat-Lon 7°11'22.38"S, 106°29'36.27"E, belok ke kiri mengikuti jalur pengairan. Kendaraan roda dua dapat masuk hingga Bendungan Sungai Cikanteh yang airnya dimanfaatkan untuk pertanian.







Bendungan Cikanteh adalah jarak terdekat untuk melihat Curug Cikanteh dan Curug Ngelai.


Erik memandu kami berjalan kaki melintas bendungan. Katanya ada satu curug lagi yang dapat dilihat. Tadinya saya juga ingin melihat langsung. Namun ketika melintas batu-batu di sungai, saya kembali merasakan letih dan pandangan sudah mulai seperti berputar. Baru saya ingat bahwa kami belum makan siang padahal waktu sudah lewat pukul 14.00.


Rekan Yance dan Erik meneruskan jalan kaki melintasi sungai Cikanteh untuk merekam keindahan Curug Sodong. Dan saya kembali ke bendungan menemui Beben dan Zaenal yang menunggu kendaraan.






Curug Sodong - pada latar belakang terlihat Curug Cikanteh




Untuk mengobati rasa letih dan cuaca yang panas, saya mandi di tepian irigasi. Box E21 multifungsi berubah menjadi gayung. Lumayan badan menjadi segar kembali. :)



Bersambung ke Pulang kembali ke Jakarta - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 9
Kembali ke Curug Cimarinjung - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 7

Mencoba Lintasan Cimarinjung - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 6



Saya akhirnya menyerah pada lintasan ini, namun rekan Yance berhasil melewati jalur Cimarinjung. Silahkan dinikmati apa yang kami lihat dalam perjalanan ini

Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 Episode 6


Pemandangan dari Puncak Cimarinjung


Minggu, 10 Juni 2012, Pukul 7 pagi kami terbangun. Saya lihat kondisi di luar terang cerah namun jalan dan pekarangan rumah tampak basah oleh hujan semalam. Saya tanya lagi apakah memungkinkan kita melintas di Cimarinjung? Dan Erik menyarankan untuk menunda keberangkatan hingga siang hari pukul 10-11 menunggu jalan kering oleh matahari.




Sambil menunggu siang, kami menyiapkan kendaraan dan mengecek kondisinya. Dua teman Erik, Zaenal dan Beben yang berboncengan menggunakan Suzuki Satria 2 tak sudah siap juga di situ. Pukul 10.30, kami siap berangkat. Jalan sudah mulai tampak kering, hanya becek di tempat yang tergenang air.

Saya coba mengendarai motor saya menelusur jalan yang kemarin. Kami jalan beriringan pada jarak yang cukup jauh. Siang itu panas benar-benar menyengat. Pada jalan yang becek kembali motor Tiger saya rebah menyentuh tanah.




Kondisi tubuh saya benar-benar lelah saat itu dan akhirnya saya relakan motor saya dikendarai Beben. Saya jadi boncenger Zaenal pakai RX King dan Erik membawa Suzuki milik Beben. Kami teruskan perjalanan hingga tempat kemarin ambil gambar. Yance tampak merekam pemandangan teluk di bawah.

Pesona Keindahan Teluk Ciletuh


Lalu kami lanjutkan perjalanan. Tiba-tiba Erik meluncur deras tak mampu mengerem akibat mesin Suzuki mati saat menuruni bebatuan, motornya jatuh di jalur air dan menabrak dinding tebing sebelah kanan. Untung tidak parah, motor masih dapat dibawa jalan. Jadinya Zaenal ganti membawa Suzuki dan Erik membonceng saya.



Setelah puas ambil gambar, kami kembali menuruni jalan berbatu. Di ujung yang menikung kondisi jalan berubah menjadi jalan tanah yang terbelah aliran air yang mengering. Harus pandai-pandai memilih jalur jalan yang tinggi agar tidak terperosok ke aliran air. Jalan terus menurun, saya dan Erik tertinggal jauh, yang lain mulai menghilang dari pandangan.




Di sebuah pertigaan pada LatLon 7°10'11.83"S, 106°28'34.46"E, kami harusnya ke kiri, Erik mengajak saya menuju jembatan melihat Curug Dogdog yang alirannya juga ada di sungai Cimarinjung juga. Kami mengarah ke kanan menuruni bukit kurang lebih 100 meter dan tiba di sebuah jembatan. Saya ingat peta dan jalur yang saya buat, ini jembatan Cimarinjung yang arahnya ke Puncak Darma. Jembatan ini terhitung belum lama dibuat namun besi-besi penghalang tampak hilang digergaji tangan-tangan jahil.



Sekitar 50 meter ke arah hulu tampak sebuah curug dengan ketinggian 20 meteran, Curug Dogdog. Sedangkan ke arah hilir, 10 meter dari kami berdiri merupakan tempat awal jatuhnya air dari Curug Nyelepet, sayang curug ini tidak sempat kami lihat.

Curug Dogdog

Hulu Curug Nyelepet

Selesai berfoto di area jembatan sungai Cimarinjung, saya dan Erik kembali menaiki jalur ke Cimarinjung. Sampai di pertigaan tadi belok ke kanan. Mulai dari sini jalan terus menurun dan semakin curam. Jalur menurun yang berliku yang biasanya sulit dilewati sehabis hujan. Dan sampailah kami pada sebuah jembatan kecil di atas pengairan dengan turunan curam. Erik yang sudah terbiasa menuruni jalan ini turun dengan cepat dan selamat.



Tak jauh sesudahnya, kami pun tiba di perhentian terdekat menuju Curug Cimarinjung.
Pesona Keindahan Teluk Ciletuh


Bersambung ke Curug Cimarinjung - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 7
Kembali ke Merubah Rute Perjalanan - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 5

Friday, June 22, 2012

Teluk Ciletuh dari Puncak Cimarinjung - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 4


Hamparan alam berbentuk teluk bernama Ciletuh dan daratan bernama Ciwaru terekam indah lewat mata.

Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 Episode 4

Kebetulan sekali ketika kami menyampaikan tujuan perjalanan kali ni, anak si pemilik rumah yang bernama Erik bersedia memandu kami ke Puncak Cimarinjung dengan menunggangi Yamaha RX King. Mentari masih menerangi langit petang itu. Kami kini bertiga melanjutkan perjalanan menelusuri jalan keluar kampung. Kondisi jalan masih tetap sama, bebatuan diselingi tanah dan rerumputan.

Hati-hati saya kendalikan Honda Tiger hitam pada jalan yang licin. Namun begitu melintasi tanah basah dengan genangan air, motor tak mampu lagi dikendalikan dan jatuh rebah menyentuh tanah becek. Saya tersenyum dan berkata dalam hati, selain perjalanan ini sendiri maka momen-momen seperti ini pun akan selalu menjadi kenangan.


Sebenarnya saya sudah merasakan kelelahan tapi Erik mengatakan sebentar lagi laut akan terlihat dari jalan. Namun belum juga sampai tujuan, pada jalan menurun berbatu yang licin, kembali motor saya rebah menyentuh bumi. :)

Tak lama kemudian, sampailah kami pada jalan selebar kurang lebih 6 meter berupa susunan batu yang rapi. Kami terus menuruni jalan tersebut. Dan benar, tampak di kejauhan, Teluk Ciletuh mulai terlihat. Kami berhenti pada tempat yang dapat merekam pemandangan indah Teluk Ciletuh dari ketinggian Cimarinjung. Hamparan alam berbentuk teluk bernama Ciletuh dan daratan bernama Ciwaru terekam indah lewat mata. Saya mengucap syukur dalam hati, merasa lega dan bahagia, dua tujuan kami sudah terlaksana hari itu, Sabtu tanggal 9 Juni 2012 tepat pada pukul 17.45 wib.






Selesai jeprat-jepret foto dan merekam video, kami kembali ke Kampung Neglasari. Baik bapak Dedi maupun anaknya, Erik, mempersilahkan kami untuk menginap di rumah mereka malam itu. Keramahan yang tak mampu kami tolak apalagi mengingat dalam perjalanan pulang tadi jalan benar-benar gelap dan lebih sulit menentukan jalur yang harus dipilih.

Bersambung ke Merubah Rute Perjalanan - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 5
Kembali ke Perjalanan ke Kampung Neglasari - Ekspedisi Teluk Ciletuh Epidose 3

Perjalanan ke kampung Neglasari - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 3

Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 Episode 3


Setengah jam berlalu di jalan Ciemas - Neglasari, sampailah kami pada sebuah pertigaan dengan kordinat 7°9'55.89"S, 106°30'31.81"E. Di peta rute, kedua jalan ini sama-sama melewati Kampung Neglasari dan nantinya akan bertemu lagi di luar kampung menuju puncak Cimarinjung. Kami berhenti di situ memperkirakan jalan mana yang harus kami tempuh. Tak ada orang untuk ditanya, jadinya kami memilih yang arah kanan karena perkampungan tampak terlihat dari situ.



Begitu memasuki Kampung Neglasari, penduduk sama-sama melihat kami dengan antusias. Saya terus melaju perlahan pada jalan kampung berbatu yang kondisinya berbeda dengan jalan sebelumnya. Batu-batuannya mulai lepas di sana-sini dan jalan tampak menurun curam. Rekan Yance dengan Scorpio-nya menyusul dan mencoba menuruni jalan berbatu. Saya berhenti pada jalan yang sudah mulai menurun. Sambil tetap duduk pada sadel motor, saya mencoba membuka percakapan dengan penduduk sekitar mengenai maksud dan tujuan kami.

Sekali lagi dikatakan bahwa untuk melihat Curug Cimarinjung, kami harus kembali ke Ciemas dan lewat Taman Jaya kemudian menuju Desa Ciwaru. Saya perjelas lagi pada mereka bahwa tujuan kami hanya ingin melihat Ciwaru dari atas. Lalu mereka jawab: "Bisa Pak, keliatan kok nanti lautnya dari atas, tapi bukan lewat jalan ini melainkan jalan yang ke kiri sebelum masuk kampung". Ternyata jalan yang sedang kami coba lewati ini sudah lama terbengkalai dan jarang sekali dipakai penduduk sekitar. Waduh, agak kaget juga mendengarnya mengingat rekan Yance sudah jauh menuruni jalan dan terlihat memberi tanda supaya saya tidak turun.

Rekan Yance kemudian kembali ke tempat saya dan mengatakan jalannya rusak dan hancur. Namun posisi motor saya saat itu sudah ada di turunan jalan dan sulit untuk berbalik arah kecuali ditarik mundur agak jauh ke atas. Akhirnya kami putuskan untuk menuruni jalan itu saja, mempercayai ucapan penduduk bahwa jalan bisa dilewati hanya saja tepat di ujung turunan berbelok ini kondisinya rusak parah.

Dengan hati-hati saya menuruni jalan berbatu yang cukup merepotkan kerena selain menurun tajam juga agak berbelok. Saya harus mempertahankan roda tetap di atas bebatuan jangan sampai tergelincir ke permukaan tanah basah yang licin.

Sampai di area yang agak datar, tampak jalan di depan terlihat agak menyeramkan. Jalan sepanjang 20 meteran tersebut lebih curam dari yang barusan kami lewati dan trek berbatu setinggi 20-30 cm dari permukaan tanah kondisinya basah dan licin. Scorpio mencoba turun dan tiba di bawah dengan selamat. Agak ragu saya menuruninya, mengingat handicap saya ada pada jejakan kaki yang pas-pasan. Kalau selip di badan jalan masih bisa kami angkat motornya tapi kalau terperosok ke sisi jalan akan merepotkan. Akhirnya saya serahkan kendali motor tiger pada rekan Yance yang jejakan kakinya lebih tinggi dan untunglah selamat pula sampai ke bawah.


Jalur selanjutnya tetap sangat menyulitkan, yakni jalan berbatu dan menanjak. Hati-hati kami menyusur jalur berbatu yang sudah ditumbuhi rerumputan dengan kondisi sisi kanan kiri jalan yang tertutup alang-alang cukup tinggi.


Pukul 17.00 wib sampai juga kami pada pertigaan yang menyatukan kembali dengan jalur yang satunya lagi. Kami berhenti di depan sebuah rumah, saya turun dari motor dan menyapa Bapak Dedi si pemilik rumah, yang dengan ramah menanyakan dari mana dan mau kemana tujuan kami. Dia tersenyum dan mengatakan bahwa jalan yang barusan kami lewati sudah jarang dilalui kendaraan, penduduk sekitar memanfaatkan jalan yang satunya lagi yang kebetulan tidak kami pilih.



Bersambung ke Teluk Ciletuh dari Puncak Cimarinjung - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 4
Kembali ke Menuju Desa Ciemas - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 2

Persiapan Keberangkatan - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 1

keunikan Kawasan Teluk Ciletuh yang area daratannya menyerupai bentuk sebuah amphitheater dan merupakan daerah penelitian batuan purba

Ekspedisi Teluk Ciletuh 9-10 Juni 2012 Episode 1

Sudah lama saya ter-obsesi untuk melihat Teluk Ciletuh dari ketinggian. Awalnya ketika sedang browsing Jalur Selatan Jawa Barat lewat Google Earth, saya meng-klik salah satu foto Panoramio yang terpampang di kawasan Teluk Ciletuh. Keindahan Teluk Ciletuh dan curug-curug di sekitarnya yang saya lihat melalui foto-foto tersebut seketika membuat saya terpesona. Saya sampaikan perihal lokasi ini pada rekan Yance dan mendapat respon yang positif. Secara tersirat saya tulis juga pada sebuah komentar di Facebook Group Nusantaride tentang keinginan menjelajah kawasan Teluk Ciletuh ini. Tinggal soal waktu saja untuk melaksanakannya.

Segera saya mencari referensi via internet mengenai Ciletuh. Sayangnya hanya sedikit yang saya dapat. Kebanyakan artikel yang ada hanya mengulas keunikan Kawasan Teluk Ciletuh yang area daratannya menyerupai bentuk sebuah amphitheater dan merupakan daerah penelitian batuan purba. Justru hal tersebut semakin mendorong keinginan saya melihat kawasan ini.

Saat itu yang saya tahu, foto Teluk Ciletuh dan foto Curug Cimarinjung, meski jaraknya berdekatan tapi didapat dari dua jalur jalan yang berbeda apabila ditempuh dengan kendaraan. Makanya ketika saya buat jalur peta pada Google Maps adalah sbb:
  • Jalur pertama dari Ciemas menuju Puncak Cimarinjung untuk merekam Teluk Ciletuh dari ketinggian.
  • Jalur kedua adalah kembali ke Ciemas lalu ke Ciwaru untuk merekam Curug Cimarinjung.

Tanggal keberangkatan kami tetapkan 9-10 Juni 2012, sengaja tidak kami sampaikan ke Nusantaride Forum karena masih tentatif juga, takutnya pada hari H kami batal berangkat apabila masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan. Untunglah 2 hari menjelang keberangkatan tampak semakin positif. Saya sampaikan ke teman-teman via BB Group rencana ini dan Pak Reza A Patunru aka Pak Ija berkenan ikut.

Hari H

Jum'at, tanggal 8 Juni 2012, hujan deras mengguyur Jakarta, saya sempatkan untuk membuat jalur melalui Google maps. Selain itu jalur-jalur penting juga saya capture via Google Earth. Kordinat dicatat dan image-image-nya kami print untuk dibawa sebagai kelengkapan. Tak lupa juga saya tengok freemeteo.org untuk melihat kondisi cuaca di sekitar Ciletuh. Sayangnya hanya wilayah Ujung Genteng dan Pelabuhan Ratu saja yang terpantau dari freemeteo, saya anggap cukup dan kebetulan kedua area tersebut jauh dari hujan pada dua hari perjalanan nanti.


Google Maps: Cimarinjung - Ciwaru

Sengaja saya beri judul perjalanan kali ini dengan nama Ekspedisi Teluk Ciletuh. Ekspedisi mengindikasikan bahwa trip perjalanan ini mempunyai tujuan khusus atau target yang harus dicapai, yakni merekam keindahan Teluk Ciletuh dari ketinggian dan mencoba menelusur jalur Ciemas menuju Puncak Cimarinjung yang jalurnya sama-sama belum kita ketahui kondisinya.


Rencana keberangkatan pukul 00.00 wib, terpaksa diundur karena pekerjaan rekan Yance belum tampak selesai. Dan keikutsertaan Pak Reza juga terpaksa batal karena ada keperluan keluarga yang lebih penting. Saya harap-harap cemas saat itu, mengingat jalur Ciawi - Cibadak yang selalu macet di siang hari. Untunglah akhirnya pukul 03.30, meski hujan masih turun rintik-rintik, rekan Yance tiba juga di rumah saya dan siap untuk berangkat.

Sabtu, 9 Juni 2010, dinihari menjelang Subuh yang dingin, perjalanan kami awali di bawah rintikan hujan, saya dengan Dreamer (Honda Tiger GL200R) dan Yance dengan Yamaha Scorpio melaju pada jalan yang masih sepi mengarah ke selatan. Jalan cukup lancar sampai Ciawi. Pukul 05.00 pagi, menjelang tanjakan sesudah Rancamaya, dari jauh terlihat antrian kendaraan besar dan sedangkan pada arah berlawanan tampak lengang. Kondisi yang cukup aneh apabila sepagi itu jalan ini sudah macet. Kami ikuti motor-motor yang melaju di sisi kanan. Dan kemacetan itu pun akhirnya menghentikan laju kendaraan roda dua karena tidak ada lagi ruang untuk menyusul. Proyek pelebaran jalan saat itu membuat lajur semakin sempit hanya pas untuk kendaraan besar saling berpapasan.


Pukul 7 kami lepas dari titik kemacetan dan jalan kembali lancar hingga Cibadak. Di Cibadak, kami belok kanan ke arah Pelabuhan Ratu. Sampai Terminal Cikembar kami istirahat kopi, tidur sebentar dan sekalian cek motor. Barulah pada jam 09.30 perjalanan kami lanjutkan, sebelum memasuki wilayah Pelabuhan Ratu kami belok kiri melewati Jembatan Bagbagan menuju arah Ujung Genteng. Menjelang tengah hari kami sempatkan untuk istirahat makan siang di warung makan Sindang Heula di Kiaradua. Rupanya kantuk tak dapat lagi kami tahan. Di warung makan ini kami tertidur dan baru lanjut perjalanan pada pukul 14.00.



Bersambung ke Menuju Desa Ciemas - Ekspedisi Teluk Ciletuh Episode 2

Monday, May 14, 2012

Curug Ayang - Pangandaranaway Episode 6

Keramahan Cianjur dan Pesona Air Terjun di Pegunungan yang sejuk

Pangandaranaway 6-8 April 2012 Episode 6

Setengah dua belas siang, Nusantara Riders meninggalkan halaman parkir menuju jalan raya lalu belok kiri mengarah ke Cianjur. Cuaca terasa panas dan aspal bagai menguap. Jalan kadang lurus dan kadang berliku mengikuti bentuk Sungai besar Cisadea yang ada di sisi kiri. Pak Ija belum lagi tampak di belakang. Saya dan Icay menepi sambil bercakap-cakap.
"Berapa lama lagi sampai Cianjur?" tanya saya pada Icay.
"Paling 1 jam lagi Pak!" jawabnya.
Walau hanya sebagian wajahnya yang terlihat tapi saya yakin teman saya ini tersenyum atau bahkan cengengesan sepertinya. Ah bodohnya saya bertanya seperti itu, meski masih 1 hari lagi ke Cianjur pasti tetap akan saya jalani.

Pak Ija sudah kembali bergabung. Berkendara dengan roda dua di cuaca panas seperti ini malah membuat mata saya berat. Rasa kantuk yang amat sangat menyulitkan untuk berkonsentrasi. Di Cisalada saya melihat rambu besar hijau petunjuk arah, terbaca jelas, Cianjur 98 KM. Saya tertawa dalam hati mengingat canda Icay tadi, sesuatu yang tak mungkin menempuh jarak sepanjang itu pada jalan berliku yang melewati pegunungan dan membelah hutan dalam 1 jam.

Jalanan terus menanjak dan menanjak, sungai yang mengikuti kami berpisah entah dimana. Panas pesisir berganti dengan kesejukan hawa pegunungan. Seketika saya merasakan tubuh kembali segar. Melihat pepohonan hijau dan bentukan alam yang kokoh yang kami sebut gunung. Semangat saya kembali bangkit memacu motor yang tadi berkali-kali disusul oleh gadis-gadis berkendara matic yang boncengan bertiga.

Icay seperti anak yang tak mau kehilangan ayahnya, menempel rapat motor di depannya. Ah sayang, baterai kamera belum sempat di-charge, jadinya keasyikan berpacu keduanya tidak sempat saya rekam. Satu, dua gunung sudah kami lewati dan kini jalan cenderung menurun. Dan tibalah kami pada sebuah jembatan besar yang membentang di atas sungai Cibuni.



Pak Ija menunjukkan sebuah curug kecil (jeram) agak tersembunyi kira-kira 30 meter dari jembatan ke arah hulu. Saya tidak tahu nama jeram ini, karena tidak ada penduduk sekitar situ. Setelah puas foto-foto di lokasi sungai Cibuni, kami terus menelusuri jalan Cibinong Pagelaran yang bersisian dengan tebing. Jalur berliku dan menanjak dengan hawa sejuk.


Tak sampai lima menit perjalanan, tepat di sisi jalan menghadap tebing. Sebuah air terjun mengucurkan airnya yang jernih dari ketinggian sekitar 20 meter. Spontan pasang aksi dan gaya, kami berfoto-foto di sini. Saya sempat bertanya pada orang setempat nama air terjun ini. Curug Sawer, nama yang banyak dipakai oleh air terjun di Jawa Barat. Sudah ada Nusantara Rider lain posting foto Curug ini. Namun kami ingin menggugah rasa keingintahuan teman-teman lain dengan temuan kami berikutnya.


 

 


Rasa lapar kembali mendera. Hujan rintik mulai turun. Beberapa tikungan dari Curug Sawer kami berhenti istirahat makan siang di sebuah tempat makan bernama Warung Mamah Ayang di desa Bojong Petir. Pemiliknya, sepasang suami istri yang sangat ramah menyambut dan menanyakan awal perjalanan kami. Dibantu dua anaknya, laki-laki seusia SMP dan yang perempuan kira-kira baru lulus SMA, mereka dengan cekatan melayani pengunjung yang makan di situ. Sate kambing, gulai dan beberapa menu lainnya menjadi santapan nikmat rider-rider yang kelaparan.


Rekan Icay sesekali mengernyitkan alisnya pada saya ketika Sang Gadis lewat. Oh rupanya ada mahluk manis di warung makan ini. Nama panggilannya singkat saja Ayang, warung makan ini milik ibunya, makanya bernama Warung Mamah Ayang. Dan keramahtamahan mereka belum akan usai. Ketika Pak Ija menanyakan adakah tempat buat kami beristirahat, sungguh tak dinyana, si Ibu segera memerintahkan anak-anaknya untuk menyiapkan ruang tamu rumahnya dan mempersilahkan kami beristirahat.

Agak sungkan juga sebenarnya, kami bertiga sudah merepotkan dengan mencabut semua peralatan listrik untuk dipakai men-charge selular, makan pun belum kami bayar, eh ini malah minta tempat tidur. Tapi itulah ketulusan masyarakat Indonesia pada umumnya yang tercermin pada layanan keluarga Ayang pada Nusantaride. Tentu ini akan kami apresiasi setinggi mungkin kami bisa. Dan memang tubuh saat itu butuh istirahat, 2 jam tidur tentu akan memberi tenaga baru buat kami melanjutkan perjalanan.

Sebelum beranjak dari warung makan ini, tak lupa kami menghaturkan terima kasih atas keramahan keluarga Ayang. Lanjutan perjalanan menjelang maghrib ini adalah menuju Kota Cianjur. Bojong Petir - Sukanagara menuju Cipetir terletak di ketinggian pegunungan. Berkali-kali motor kami harus mendahului truk dan mobil bak pengangkut hasil bumi yang berjalan pelan.



Di sebuah SPBU di Cipetir, motor-motor Nusantara Riders gantian butuh tambahan isi. Sekaligus kami rehat kopi sambil postingan lewat BBM. Aha, koordinat Curug Sawer yang Pak Ija posting sebenarnya adalah Warung Mamah Ayang. Heboh-heboh, jadilah nama curug tersebut menjadi Curug Ayang.

Pukul 21:00 wib, adalah kepulangan kami menuju Jakarta. Rasanya tak ada yang perlu diceritakan karena ini seperti perjalanan biasa. Lalulintas menjelang tutup liburan via jalur Puncak yang ramai. Di Bogor kami sempatkan makan malam sebelum kemudian berpisah. Kami saling bersalaman dan berharap bisa riding bareng lagi suatu saat nanti. Terima kasih buat semua teman-teman Nusantaride yang datang di Event Pangandaranaway. Terima kasih Pak Ija dan Icay, sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan buat saya.

Ride the Archipelago!

Kembali ke We're not lost, We're on an adventure - Episode 5

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Dedicated for Nusantaride | Designed by Info Mancing