Me_sulis
Showing posts with label Cianjur. Show all posts
Showing posts with label Cianjur. Show all posts

Thursday, July 5, 2012

The GPS Challenge Camp Cigintung

Nusantaride The GPS Challenge Camp Cigintung 23-24 Juni 2012

Di masa 2 tahun wira-wirinya Nusantaride pada Juni 2012 ini, beberapa rekan berkenan menggagas acara kumpul-kumpul temu kangen di sebuah tempat (unknown) dengan alamat sebuah titik kordinat.

Acaranya sendiri sebenarnya tidak ada nama, tapi begitu Kang Dendy Julius meng-upload beberapa foto di FB Group dengan judul album GPS Challenge maka saya sebut saja gathering tersebut dengan judul sama 'The GPS Challenge'.

Acara yang digagas spontan ini infonya datang lewat japri, mungkin maksud teman-teman adalah format acara seperti ini - lokasi tujuan berupa titik koordinat tanpa titik kumpul (tikum) - masih bersifat trial atau coba-coba. Uji coba ini kemungkinan nantinya akan di-aplikasikan pada setiap acara gathering Nusantaride baik formal maupun informal. Makanya The GPS Challenge tidak diumumkan ke forum. Sehingga meskipun gagal, ada yang kesasar, atau sampai pada tempat yang salah, dan lain-lain hal yang bisa bikin badan keringet dingin, maka yang merasakan hanya segelintir orang saja. :)

Saya coba menutur dan merangkai kata tentang perjalanan saya dalam 'The GPS Challenge' menuju titik kordinat pertemuan yang diberikan.

Pada pesan yang saya terima, meeting point-nya adalah -6.74343, 107.14118. Seperti biasa kordinat tersebut saya copy-paste ke Goggle Earth. Dan sepertinya tidak jauh, terletak di utara kota Cianjur. Kemudian ada info lagi bahwa lokasi ada di Puri Gintung belakang Taman Bunga Nusantara, tampak semakin dekat menurut saya.



Dari Google Earth saya dapatkan perkiraan titik lokasi di Kecamatan Sukaresmi Kabupaten Cianjur. Apabila di-zoom maka akan menunjuk lokasi pada sebuah perkebunan pada jalan yang tidak terdaftar pada Google Earth/Maps.



Setelah semakin jelas posisinya, maka untuk rute, saya ambil arah Puncak lanjut Cipanas lalu belok kiri di Pacet atau Hanjawar. Bayangan saya, lokasinya pasti deretan vila-vila yang menjamur di Cipanas, mungkin Google belum meng-update petanya sehingga tak ada tanda-tanda ada vila atau rumah di titik tersebut. Kemudian saya putuskan keberangkatan adalah pada hari Sabtu Malam Minggu saja setelah urusan di rumah beres. Tak lupa saya plot lokasi pada GPS, navigasi rute selesai dan tinggal berangkat nanti malam. Semudah itukah?

Malam Minggu, pukul 8.30 lewat, Dreamer, Honda Tiger hitam saya mulai melaju start dari rumah di Jakarta Selatan. Seperti biasa, lalulitas Kota Jakarta dan Depok agak tersendat di malam panjang. Begitu pula Jalur menuju Kawasan Puncak dari Kota Bogor hingga pertigaan Mega Mendung.

Pukul 11 malam saya baru tiba di Puncak Pass. Saya sempatkan istirahat makan terlebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan. Setelah setengah jam beristirahat, saya lanjut menuruni Puncak Pas menuju Cipanas. GPS mulai dinyalakan. Dan tepat sebelum Pasar Cipanas, arah GPS menunjuk ke kiri menuju Taman Bunga Nusantara.

Dari tempat ini, tujuan masih sekitar 14 km saja, sudah dekat, kata saya dalam hati. Saya ambil rute melalui Jalan Mariwati. Lalu lintas di jalan tersebut menjelang tengah malam itu sudah tampak sepi. Nyala lampu perumahan dan vila di sepanjang jalan menemani saya menyusur Mariwati. Udara pegunungan yang dingin mulai menembus badan.

Sekitar 8 Km, GPS memberi petunjuk arah belok kanan pada pertigaan menuju Lembah Karmel, tempat yang masih saya kenal, aman, sudah mau sampai.

Namun begitu melewati Vila Lembah Karmel, jalan mulai menanjak dan menanjak. Sepi dan gelap, nah perasaan mulai ketar-ketir juga. Hanya pepohonan dan gerbang-gerbang vila yang sepi dan tak ada orang untuk ditanya. GPS masih me-navigasi untuk terus berada di jalan tersebut hingga masuk sebuah perkampungan yang sepi. Hanya lampu rumah yang menyala dan hewan peliharaan seperti anjing dan kucing saja yang lalu-lalang. Waduh.

Keluar kampung jalan kembali gelap dan terus menanjak hingga kemudian terlihat rumah yang baru saja selesai mengadakan pengajian. Beberapa orang tampak melintas menyebrang jalan dan saya melaju pelan memberi kesempatan pada mereka memotong jalan saya. Saya stop tepat di hadapan orang-orang yang menyebrang tadi dan bertanya pada salah satunya.

"Kang, punten, kalau mau ke Puri Gintung bener ini jalannya?"
"Iya pak, jalan ini saja nanti pertigaan ambil yang lurus, nanti sampai Pajagan terus aja sampe ketemu pertigaan ambil yang kiri atau tanya aja lagi nanti di Pajagan."
"Nuhun Kang"

Saya ikuti petunjuk penduduk dan meneruskan perjalanan. Namun baru beberapa ratus meter, GPS menunjuk arah belok ke kanan padahal tadi penduduk menunjuk jalan yang lurus. Saya mulai bimbang padahal tinggal 5 km lagi menuju tujuan. Yang lurus jalannya gelap, jelek, dan kecil, sedang yang ke kanan jalan lebih lebar dan terang namun ada portal terbuka dan pos satpam yang tidak dijaga. Ini pasti jalan masuk ke vila, pikir saya, makanya Saya putuskan untuk mengikuti petunjuk penduduk.

Jalur yang saya ambil ini jalannya rusak dan berlubang, motor hanya dapat melaju perlahan. Saat itu jam sudah menunjuk lewat dari tengah malam. Di kanan kiri jalan tampak sawah dan ladang yang sepi, gelap menghitam. Kemudian jalan tersebut mulai masuk menembus hutan. Ah kenapa harus bertemu pohon-pohon besar di tengah malam buta yang sepi.

Saya beranikan diri untuk terus melintas. Saya coba mempercepat laju motor meski jalan rusak berlubang. Satu dua tikungan mulai saya lewati tapi masih saja hutan, pandangan arah kanan terhalang oleh ketinggian bukit.

Entah pada tikungan ke berapa, saya mendengar deru motor dan sekilas melihat terangnya lampu menyibak pepohonan, hati agak tenang, berarti jalan ini merupakan perlintasan yang sering dipakai. Mendekati tikungan terdengar suara klakson memberi tanda kehadirannya. Mungkin dilihat juga lampu motor saya menerangi pohon. Motor tersebut mulai terlihat keluar dari tikungan. Bukan satu, tapi dua motor mendekat dan semakin jelas. Oh, rupanya rekan Andenko 'Koko' Utama dan Rici Ludira Sakti, yang langsung berhenti saat itu juga. Saya salami keduanya, dan bertanya kenapa sudah pulang.

"Besok masih ada urusan Om, jadi mesti balik Jakarta nih.."
"Masih jauh nggak tempatnya? masih pada belum tidur kan?"
"3 km lagi Om, ditunggu kok, nanti kalau ketemu pertigaan Pesantren ambil kiri"
"Oke, terima kasih, hati-hati di jalan"

Saya lanjut pada jalan yang menurun memasuki perkampungan. Di kiri mulai terlihat lampu-lampu rumah. Di ujung turunan juga terlihat lampu-lampu rumah penduduk dan pertigaan. Saya ambil ke kiri, GPS kembali me-navigasi untuk terus. Hati tenang sesudahnya, jalannya sudah benar tampaknya.

Tak jauh dari situ perkampungan mulai terlihat. Meski pemukiman ini tampak padat namun tak ada satu orang pun terlihat di luar. Penduduk tentu sudah terlelap di peraduan. Benar-benar sepi. Bahkan di pertigaan yang menjadi pusat desa juga sepi tanpa terlihat ada kegiatan manusia.

Saya yakin ini Desa Pajagan seperti yang diterangkan penduduk yang tadi saya tanya. Makanya saya ambil jalan yang lurus keluar perkampungan yang ternyata kembali gelap pekat. Hanya langit malam dan lampu motor saya saja yang menerangi area tersebut.

Tampak perkebunan dengan pohon-pohon sebagai pagar menutupi perkebunan. Perasaan tak enak mulai menyambangi saya. Semakin saya ikuti jalan itu seperti semakin jauh dari kehidupan. Tanaman-tanaman berdaun lebar terlihat menyeramkan ketika daun-daunnya memantulkan kembali sorot lampu motor. Saya perhatikan GPS mulai berputar-putar penunjuk jalannya.

Saya jadi tidak yakin, soalnya pesantren yang Koko katakan tadi belum juga terlihat. Saya berhenti di tempat yang cukup terbuka. Tampak di kejauhan di sisi kanan kerlap-kerlip lampu perkampungan. Apakah saya salah arah di pertigaan Desa Pajagan tadi. Memang, titik kordinat -6.74343, 107.14118 yang dikirim ke saya tidak menunjuk pada jalan terdaftar. Makanya saya ambil kesimpulan, sebenarnya saya sudah dekat pada tujuan.

Daripada berlama-lama di tempat sepi yang membuat badan merinding mending lanjut terus saja. Kalau tak ketemu pun paling juga nembus ke Cianjur atau Jalur Jonggol, demikian pikir saya.

Dan perjalanan saya lanjutkan pada jalan yang mulai menanjak. Tak lama kemudian terlihat gerbang tertutup berwarna hijau yang diterangi lampu. Ketemu juga dengan pesantren dimaksud. Sementara di sisi kiri pada arah jalan yang menanjak terlihat ada lampu-lampu rumah atau vila yang menjadi tujuan saya, Puri Gintung.

Puri Gintung adalah base dari Outbond Camp cigintung, berupa rumah panggung terbuat dari kayu. Terlihat teras bawah beberapa motor yang saya kenal terparkir rapi. Beberapa rekan-rekan Nusantaride melambaikan tangannya pada saya. Kali ini saya benar-benar lega, sudah sampai ke tujuan pada pukul 1 dini hari.

"Woy... 'gak ada tempat yang lebih jauh lagi ya...?"

Teriakan saya disambut gelak tawa. Saya salami semua yang hadir, Pak Ija, Adet, Haryo, Luckay, Joe, Bowo, Julius, Icay. Rupanya rekan Icay juga belum lama tiba di situ.

Obrolan kembali berlanjut, diskusi dan cerita canda mengenai perjalanan masing-masing ke Puri Gintung. Ternyata masih ada satu rekan yang akan hadir juga, Yusra Inyiak. Terbayang oleh saya, bagaimana galaunya rekan yang masih dalam perjalanan ini. Yang saya tahu, tempatnya tidak sulit ditemui tapi tidak juga mudah jika ditempuh pada tengah malam begini. Pokoknya ikuti kata hati saja, pasti sampai. :)





Berikut adalah klip video pada saat pulang dari Camp Cigintung. Enjoy!












Ride The Archipelago

Monday, May 14, 2012

Curug Ayang - Pangandaranaway Episode 6

Keramahan Cianjur dan Pesona Air Terjun di Pegunungan yang sejuk

Pangandaranaway 6-8 April 2012 Episode 6

Setengah dua belas siang, Nusantara Riders meninggalkan halaman parkir menuju jalan raya lalu belok kiri mengarah ke Cianjur. Cuaca terasa panas dan aspal bagai menguap. Jalan kadang lurus dan kadang berliku mengikuti bentuk Sungai besar Cisadea yang ada di sisi kiri. Pak Ija belum lagi tampak di belakang. Saya dan Icay menepi sambil bercakap-cakap.
"Berapa lama lagi sampai Cianjur?" tanya saya pada Icay.
"Paling 1 jam lagi Pak!" jawabnya.
Walau hanya sebagian wajahnya yang terlihat tapi saya yakin teman saya ini tersenyum atau bahkan cengengesan sepertinya. Ah bodohnya saya bertanya seperti itu, meski masih 1 hari lagi ke Cianjur pasti tetap akan saya jalani.

Pak Ija sudah kembali bergabung. Berkendara dengan roda dua di cuaca panas seperti ini malah membuat mata saya berat. Rasa kantuk yang amat sangat menyulitkan untuk berkonsentrasi. Di Cisalada saya melihat rambu besar hijau petunjuk arah, terbaca jelas, Cianjur 98 KM. Saya tertawa dalam hati mengingat canda Icay tadi, sesuatu yang tak mungkin menempuh jarak sepanjang itu pada jalan berliku yang melewati pegunungan dan membelah hutan dalam 1 jam.

Jalanan terus menanjak dan menanjak, sungai yang mengikuti kami berpisah entah dimana. Panas pesisir berganti dengan kesejukan hawa pegunungan. Seketika saya merasakan tubuh kembali segar. Melihat pepohonan hijau dan bentukan alam yang kokoh yang kami sebut gunung. Semangat saya kembali bangkit memacu motor yang tadi berkali-kali disusul oleh gadis-gadis berkendara matic yang boncengan bertiga.

Icay seperti anak yang tak mau kehilangan ayahnya, menempel rapat motor di depannya. Ah sayang, baterai kamera belum sempat di-charge, jadinya keasyikan berpacu keduanya tidak sempat saya rekam. Satu, dua gunung sudah kami lewati dan kini jalan cenderung menurun. Dan tibalah kami pada sebuah jembatan besar yang membentang di atas sungai Cibuni.



Pak Ija menunjukkan sebuah curug kecil (jeram) agak tersembunyi kira-kira 30 meter dari jembatan ke arah hulu. Saya tidak tahu nama jeram ini, karena tidak ada penduduk sekitar situ. Setelah puas foto-foto di lokasi sungai Cibuni, kami terus menelusuri jalan Cibinong Pagelaran yang bersisian dengan tebing. Jalur berliku dan menanjak dengan hawa sejuk.


Tak sampai lima menit perjalanan, tepat di sisi jalan menghadap tebing. Sebuah air terjun mengucurkan airnya yang jernih dari ketinggian sekitar 20 meter. Spontan pasang aksi dan gaya, kami berfoto-foto di sini. Saya sempat bertanya pada orang setempat nama air terjun ini. Curug Sawer, nama yang banyak dipakai oleh air terjun di Jawa Barat. Sudah ada Nusantara Rider lain posting foto Curug ini. Namun kami ingin menggugah rasa keingintahuan teman-teman lain dengan temuan kami berikutnya.


 

 


Rasa lapar kembali mendera. Hujan rintik mulai turun. Beberapa tikungan dari Curug Sawer kami berhenti istirahat makan siang di sebuah tempat makan bernama Warung Mamah Ayang di desa Bojong Petir. Pemiliknya, sepasang suami istri yang sangat ramah menyambut dan menanyakan awal perjalanan kami. Dibantu dua anaknya, laki-laki seusia SMP dan yang perempuan kira-kira baru lulus SMA, mereka dengan cekatan melayani pengunjung yang makan di situ. Sate kambing, gulai dan beberapa menu lainnya menjadi santapan nikmat rider-rider yang kelaparan.


Rekan Icay sesekali mengernyitkan alisnya pada saya ketika Sang Gadis lewat. Oh rupanya ada mahluk manis di warung makan ini. Nama panggilannya singkat saja Ayang, warung makan ini milik ibunya, makanya bernama Warung Mamah Ayang. Dan keramahtamahan mereka belum akan usai. Ketika Pak Ija menanyakan adakah tempat buat kami beristirahat, sungguh tak dinyana, si Ibu segera memerintahkan anak-anaknya untuk menyiapkan ruang tamu rumahnya dan mempersilahkan kami beristirahat.

Agak sungkan juga sebenarnya, kami bertiga sudah merepotkan dengan mencabut semua peralatan listrik untuk dipakai men-charge selular, makan pun belum kami bayar, eh ini malah minta tempat tidur. Tapi itulah ketulusan masyarakat Indonesia pada umumnya yang tercermin pada layanan keluarga Ayang pada Nusantaride. Tentu ini akan kami apresiasi setinggi mungkin kami bisa. Dan memang tubuh saat itu butuh istirahat, 2 jam tidur tentu akan memberi tenaga baru buat kami melanjutkan perjalanan.

Sebelum beranjak dari warung makan ini, tak lupa kami menghaturkan terima kasih atas keramahan keluarga Ayang. Lanjutan perjalanan menjelang maghrib ini adalah menuju Kota Cianjur. Bojong Petir - Sukanagara menuju Cipetir terletak di ketinggian pegunungan. Berkali-kali motor kami harus mendahului truk dan mobil bak pengangkut hasil bumi yang berjalan pelan.



Di sebuah SPBU di Cipetir, motor-motor Nusantara Riders gantian butuh tambahan isi. Sekaligus kami rehat kopi sambil postingan lewat BBM. Aha, koordinat Curug Sawer yang Pak Ija posting sebenarnya adalah Warung Mamah Ayang. Heboh-heboh, jadilah nama curug tersebut menjadi Curug Ayang.

Pukul 21:00 wib, adalah kepulangan kami menuju Jakarta. Rasanya tak ada yang perlu diceritakan karena ini seperti perjalanan biasa. Lalulintas menjelang tutup liburan via jalur Puncak yang ramai. Di Bogor kami sempatkan makan malam sebelum kemudian berpisah. Kami saling bersalaman dan berharap bisa riding bareng lagi suatu saat nanti. Terima kasih buat semua teman-teman Nusantaride yang datang di Event Pangandaranaway. Terima kasih Pak Ija dan Icay, sungguh suatu pengalaman yang sangat berkesan buat saya.

Ride the Archipelago!

Kembali ke We're not lost, We're on an adventure - Episode 5

We're not lost, We're on an adventure - Pangandaranaway Episode 5

Pesisir Selatan Jawa Barat Jalur Seribu Jembatan

Pangandaranaway 6-8 April 2012 Episode 5

Minggu dinihari tanggal 8 April pukul 00.45, tiga motor tiger warna hitam Nusantaride (Silverster, Knight Fox & Dreamer) mulai menderu membelah perkebunan Mira Mare. Jalan berliku menuju Pameungpeuk kami tempuh pada kecepatan rata-rata meski kondisi jalan mestinya dapat ditempuh lebih cepat. Mungkin badan kami telah lelah tapi perjalanan terus lanjut.
Tiba di Pameungpeuk kami agak celingukan menentukan arah simpangan jalan yang harus diambil. Pak Ija tampak melihat-lihat GPS. Tampaknya arah sudah benar dan kami mengarah menuju Cikelet. Sayang ini perjalanan malam hari, padahal ada pantai Santolo di jalur kami.

Dari Cikelet mulailah kami memasuki jalan yang saya sebut Seribu Jembatan karena banyaknya jumlah jembatan yang tak terhitung lagi oleh saya. Kami terus melaju seiring rembulan yang mengikut hingga ke barat.

Cijayana telah dilewati dan karakter jalan Seribu Jembatan mulai berubah. Walau masih dekat dengan pesisir, jalan menuju Jayanti ini banyak diselingi jalan menanjak kemudian menurun menjelang jembatan. Tanjakan dan turunan curam yang sepi kadang kami lalui tanpa menekan pedal rem. Motor yang melompat dan menghempas membuat Knight Fox-nya Icay kewalahan. Dia berjalan pelan sambil mengecek kendaraannya, karena ada bunyi-bunyian seperti bagian motor yang akan lepas. Kami berhenti sebentar mengecek motor Icay, memasang kembali baut braket boks pada rangka yang sudah hilang lepas. Sementara Pak Ija kehilangan mika cover side penutup aki Silverster.

Perjalanan kami teruskan menuju Jayanti. Waktu sudah hampir subuh, kami berjalan pelan menelusur dan akhirnya berhenti di sebuah pos ronda di depan rumah penduduk di Jalan Pelabuhan Jayanti. Tenda lagi-lagi tidak jadi kami buka. Pos ronda ini layak dan dapat dijadikan tempat istirahat tidur. Setelah mengunci motor masing-masing, kami membuka matras dan sebentar saja langsung pulas tertidur.




Pukul 6:00 saya terbangun oleh suara kendaraan dan lalu-lalang orang yang berolahraga pagi. Matahari mulai menerangi Jalan Raya Pelabuhan Jayanti. Rumah-rumah penduduk di belakang Pos Ronda yang kami pakai sudah menampakkan kegiatan rutinnya. Saya temui salah satunya sekaligus menerangkan keberadaan kami di situ. Umumnya mereka malah dengan santun meminta maaf karena tidak mendengar kami datang jadi tidurnya di Pos Ronda. Pak Ija tampak memesan kopi dan gorengan sebagai pengganjal perut. Di tempat ini kami berkenalan dengan Mang 'Ewet' Dadang, sosok figur super ramah warga Jayanti.


Pukul 7:00 mulai start menuju Cidaun, di Cidaun rencana belok ke arah Naringgul terus Ciwidey Bandung batal. Nusantaride terus mengarah ke barat menuju Sindang Barang. Jalan dari Cidaun ke Sindang Barang sebagian masih belum diperbaiki. Tipikal jalan berlobang besar kembali kami temui. Bunyi-bunyian aneh di motor Icay kembali terdengar tapi ketemu juga penyebabnya, ternyata baut pegangan knalpot musti dikencangkan.

Di Sindangbarang, lagi-lagi kami terus ke barat. Rambu hijau besar petunjuk arah jalan terlihat rubuh tergeletak di tepi jalan. Mungkin ini juga kenapa Pak Ija yang ada di depan tidak belok ke kanan arah Cianjur tapi ambil lurus menuju arah Tegalbuleud Sukabumi. Apalagi setelah jembatan Sindangbarang, jalanan tampak mulus dan berliku. Kedua teman saya itu kembali ngacir tanpa dapat saya ikuti. Saya nikmati sendiri perjalanan melewati pemukiman yang lumayan ramai. Karakter jalan yang kadang beton kadang aspal, tikungan dengan kemiringan yang minimal, tinggi permukaan yang berbeda dengan tanah di sekitarnya serta letak pemukiman yang begitu dekat dengan jalan, saya nilai berpotensi dapat menimbulkan kecelakaan.


Sayangnya jalan mulus ini sekitar 10 km-an saja, selanjutnya kondisi jalan rusak ada di hadapan saya. Tampak Icay dan Pak Ija menepi sambil membenahi motor. Perbaikan jalan baru sampai di titik ini. Kemungkinan jalan rusak akan terus kami temui hingga Kiara Dua Sukabumi. Makanya diputuskan kembali ke Sindangbarang dan masuk ke jalur menuju Kota Cianjur. Kendaraan-kendaraan yang lewat situ, rata-rata melihat ke arah kami, demikian juga penduduk sekitar. Mereka mungkin mengira ini klub motor dari Jakarta yang kesasar sampai ke situ. Ah jadi teringat lagi sebuah slogan yang akrab di telinga saya, I'm not lost, I'm on an adventure.


Jadinya kami kembali mengarah ke timur masuk kota Sindangbarang Cianjur Selatan. Di Mesjid Agung Sindangbarang yang terletak di sebelah barat alun-alun kota, roda dua kami parkir untuk beristirahat. Waktu masih pukul 9 pagi lewat sedikit tapi cuaca kota pesisir terasa sangat terik. Kesempatan buat menjemur yang basah oleh hujan tadi malam. Pak Ija tampak menyeting ulang shock roda belakang dan Icay pilih merebah badan. Saya sendiri langsung MCK dan mandi membersihkan badan.

Eh mau kemana lagi kita?

Bersambung ke Curug Ayang - Pangandaranaway Episode 6
Kembali ke Menelusur Jalur Patah Hati - Pangandaranaway Episode 4

Menelusur Jalur Patah Hati - Pangandaranaway Episode 4

Jalur Pesisir Selatan Jawa Barat dari Pangandaran ke Sindangbarang

Pangandaranaway 6-8 April 2012 Episode 4

Masih di hari yang sama, Sabtu 7 April 2012. Lewat pukul 16:00 petang, Saya, Pak Ija, Icay, Tanto dan boncenger, mulai memacu motor masing-masing menuju Cimerak. Kami akan melewati Jalur Patah Hati, saya sebut begitu, karena dari lebih 20 peserta yang ikut Acara Pangandaranaway ini, hanya 4 rider yang mau lewat jalur ini. Apalagi semua sudah mendengar, rekan-rekan yang lewat jalur ini kemarin datang lebih lama 5 jam hingga 7 jam karena kondisi jalan yang buruk. Rekan Tanto adalah salah satu yang kemarin melewati jalur ini lewat Garut.

Hujan yang rintik semakin menderas. Posisi saya di depan, dengan asumsi laju saya tidak akan terlalu cepat, diikuti Tanto lalu Icay dan terakhir Pak Ija. Jalan beton lebar Cijulang Cimerak sebenarnya agak menggoda untuk menambah kecepatan. Namun turunnya hujan cukup menjadi halangan. Penglihatan menjadi terbatas. Dilema menutup kaca helm akan mengembun atau dibuka dapat terpaan hujan di wajah, membuat saya memilih membuka kaca helm, meski demikian pandangan memang jadi terbatas dalam melihat rintangan jalan.

Dalam guyuran hujan, kecelakaan tak dapat dihindarkan. Tepat di Jembatan Sungai Cibening, saya melihat lubang besar tepat pada lajur saya dan hamparan kerikil besar. Tak ada waktu untuk menghindar karena saat itu tepat berpapasan dengan mobil di lajur lain. Spontan saya menekan tuas rem depan dan belakang tanpa memperhitungkan posisi motor Tanto yang lumayan dekat di belakang saya. Motor dapat saya kendalikan meliwati celah tengah antara lobang dan hamparan kerikil, namun tidak demikian dengan motor Tanto. Serta merta melihat saya mengerem agak mendadak, Tanto mencoba menahan laju motornya secara spontan pula. Motor tak mampu dikendalikan karena melewati hamparan kerikil dan masuk ke lobang. Mega Pro bernama Cobra itu terjungkal ke sisi jalan setelah roda depan masuk ke lobang.

Saya sempat mendengar derit roda menyapu kerikil dan suara motor jatuh. Saya segera berhenti di atas jembatan Cibening, begitu pula yang lain. Dada seketika berdegup melihat rekan kami bersama boncenger Sang Istri tergeletak di sisi jalan. Tanto segera bangkit menolong Sang Istri yang tampak kesakitan. Kami tanyakan bagian mana dari tubuh yang terasa sakit. Dia menjawab dengan cara memegang salah satu lengannya. Yakin atas jawabannya, kami mengangkat istri Tanto ke tepian jalan.

Dalam hati saya berdoa, semoga tidak ada luka yang fatal. Namun istri Tanto tiba-tiba tak sadarkan diri. Kami bangkit bertanya di mana tempat pengobatan terdekat pada penduduk yang mencoba ikut menolong. Satu mobil pick-up saya berhentikan dan saya minta mengantar korban. Agak ragu Sang Sopir mobil pengangkut kayu mengangguk. Dan kami semua menuju tempat pengobatan, seorang dokter yang berpraktek di rumahnya.

Alhamdulillah, tidak ada luka fatal maupun luka dalam, kemungkinan syok akibat motor terjatuh. Tukang urut juga dipanggil untuk menolong Istri Tanto.

Hujan semakin deras, petir menggelegar seakan ingin memecah bumi. Si Empunya rumah adalah orang yang baik hati, kami disuguhi penganan dan teh hangat. Rekan Tanto memutuskan untuk kembali ke arah Banjar dan bersikeras agar kami tetap melanjutkan perjalanan ke arah Cipatujah. Kami setuju dan sepakat untuk terus lewat lintas pantai selatan. Ketika hari mulai gelap dan hujan tetap enggan pergi, saya, Pak Ija dan Icay meninggalkan Tanto dan Istri yang masih berteduh di rumah dokter. Saya merasa agak lega karena tidak terjadi sesuatu yang fatal.

Meski hujan menerpa tubuh dan wajah, kami lanjut ke arah barat menuju Cikalong. Selepas Cimerak, kondisi jalan mulai tidak bersahabat. Jalur rusak dan bongkahan batu tampak di sisi dan badan jalan. Hati-hati kami melewati jalan raya Kalapa Genep ini yang kadang naik dan menurun tajam. Air turut mengalir di tengah jalan sejajar roda motor. Kondisi jalan sangat gelap hanya diterangi lampu-lampu kendaraan yang lewat.

Badan saya sudah basah kuyup meski memakai jas hujan dan dingin mulai menyiksa. Kecepatan kendaraan hanya berkisar 20-40 km perjam. Sulit memastikan kondisi jalan yang agak lumayan karena badan jalan berlobang digenangi oleh air. Sesekali kami harus berhenti memberi jalan pada kendaraan yang berpapasan. Saya sempat mengisi tangki dengan eceran guna mengantisipasi kekurangan bahan bakar yang kian menipis.

Sebelum masuk Cikalong, kami istirahat di warung kecil sekedar menghangatkan badan sambil mereguk segelas kopi. Waktu menunjukkan lewat pukul 8 malam. Rasa lapar terasa menggelitik perut. Tapi dari tadi memang belum terlihat ada warung makan. Selagi istirahat, saya sempatkan mengganti pakaian dan melapisi tubuh dengan jaket. Lanjut dari situ sampai juga di Cikalong. Di SPBU pada jalan menuju Cipatujah, kami mengisi penuh tangki motor.

Tak lama setelah SPBU ada warung makan kecil di kiri jalan, kesempatan isi perut dan menghangatkan badan. Setengah jam beristirahat, perjalanan kami lanjutkan. Jalur Cikalong - Cipatujah kondisinya juga parah seperti sebelumnya. Badan jalan berlobang dan terkadang bagai seperti diparut roda traktor. Sulit sekali mengendalikan roda motor pada parut yang sejajar arah jalan. Hampir 3 jam kami tempuh untuk sampai Cipatujah.

Kota kecil Cipatujah di selatan Tasikmalaya ini mulai memperlihatkan kerlip lampunya. Hujan mulai mereda namun kota ini tampak sepi. Dari sini jalan menuju Cibalong tampak menghitam seperti aspal baru. Garis jalan masih terlihat putih terang. 2 rekan saya mulai memelintir handel gas dan melaju bak kesetanan. Wah, saya hanya melihat dua lampu di kejauhan. Jalan mulus selebar 8 meter ini jadi santapan nikmat setelah tadi disuguhi jalan rusak. Saya biarkan Pak Ija dan Icay menghilang dari pandangan. Saya tidak takut ketinggalan tetap di 80. Saya tahu tujuan saya dan nanti juga ditunggu. 14 km kira-kira panjang jalan dengan tikungan lebar yang asyik buat rebahan motor itu yang dilabas 2 rekan saya.


Memasuki perkebunan Mira Mare Cibalong desa Sancang, kondisi jalan mulus berubah menjadi jalan perkebunan yang penuh tambalan dan lipatan. Tapi masih lumayan dan masih dapat melarikan motor dengan mudah. Dua lampu motor berwarna merah mulai terlihat dan semakin mendekat. Namun suasana perkebunan dan hutan ini lumayan mencekam. Meski Rembulan bersinar menerangi sekitar, mulai terlihat dan terasa, sosok-sosok yang setia menunggui rumah peristirahatan kosong tak berlampu di kiri kanan jalan. Saya mencoba menerangi jalan dengan menyalakan lampu tambahan dan menambah kecepatan. Aneh, biasanya saya begitu sayang motor, tapi kali ini saya biarkan Si Dreamer melompat-lompat di gundukan. Pak Ija dan Icay juga seperti tidak mau mengurangi kecepatan semakin dikejar malah semakin menjauh.



Keluar perkebunan baru keduanya menurunkan kecepatan dan berhenti setelah melewati jembatan Sancang. Waktu 10 menit lagi menjelang tengah malam. Kami mampir di warung kecil memesan kopi sekaligus beristirahat. Kami habiskan sedikit hari yang tersisa mengobrol bersama pemilik warung dan seorang pekerja kontraktor menara komunikasi.


Hari esok akan menjelang.....

Bersambung ke We're not lost, We're on an adventure - Pangandaranaway Episode 5
Kembali ke Batu Karas Kawasan Wisata Alternatif Pangandaran - Pangandaranaway Episode 3

Wednesday, May 2, 2012

Ciwidey Saguling Sesi Mudik 2011 Episode 6


Kampung Strawberry, Agrowisata di Ciwidey
Minggu, 4 September 2011. Kami cek out dari Pondok Gembyang sekitar pukul 12. Jalan di depan
penginapan sudah terhalang antrian kendaraan yang naik menuju area wisata Ciwidey. Perut sudah mulai keroncongan dan resto terdekat di Kampung Strawberry jadi tempat singgah kami selanjutnya. Selesai makan, kami melangkah menuju front-office bertanya sedikit mengenai penginapan Kampung Strawberry dan melihat vila serta fasilitasnya.




Sekarang saatnya pulang mengarah ke Jakarta. Dreamer kembali saya pacu menuruni Ciwidey menuju Soreang. Arah turun cukup lancar, sesekali kami menyusul angkot dan delman yang melaju lebih lambat.
Sampai jalan raya Soreang ada petunjuk jalan menuju Cililin. Aha, ini dia pikir saya, kalau bisa ke Cililin pasti bisa ke Saguling terus tembus ke Cianjur.
Di perempatan ambil jalur yang ke kiri melewati Pemkab Soreang, lalu belok kanan masuk jalan raya Soreang - Cipatik. Di jalan ini, Stadion Jalak Harupat tampak ada di sisi kiri jalan.
Kami terus menelusuri lintas Soreang - Cipatik sampai pertigaan Citapen, kami ambil yang lurus ke arah Cililin - Gunung Halu, kalau ke kanan itu ke Batujajar - Cimareme.

Sepanjang jalan menuju Cililin - Ranca Panggung, boncenger berkali-kali mencolek bahu saya kemudian menunjuk rambu petunjuk jalan Gunung Halu - Curug Malela yang tampak searah dengan tujuan. Saya membalas dengan acungan jempol, "Lain kali Dee.. klo ke Curug Malela, 'kan besok kita sudah masuk kerja" demikian jawab saya dalam hati.
Setelah melewati Cililin kemudian Ranca Panggung, di pertigaan pasar kami belok kanan masuk jalan PLTA Saguling, jalannya lebih kecil namun lebih lenggang. Sampai Warung Awi menuju Cijenuk kondisi jalannya mulai rusak dan berlobang di sana-sini sehingga memperlambat waktu tempuh.
Debu-debu tanah beterbangan akibat kemarau, motor saya pacu lambat mengingat jalan tersebut melewati banyak rumah penduduk. Akhirnya kami sampai di pertigaan jalan belok kanan memasuki jalan raya Cipongkor yang super lebar. Jalan selebar 8 meter ini nantinya akan membentang sepanjang 33 KM dari Cipongkor ke Rongga yang dipergunakan untuk akses pembangunan
PLTA Cisokan. Di sini saya terpuaskan karena dapat memacu motor pada jalan besar yang sepi menanjak maupun menurun dengan tikungan-tikungan lebar.
Sekitar pukul 15, kami tiba di Saguling, sebuah bangunan konstruksi besar buatan manusia
membendung sungai Citarum hingga membentuk waduk. Kendaraan R2 bisa melewati jalan di atas bendungan ini. Spot yang bagus buat berfoto-foto.




Di Saguling kami istirahat ngopi, melepas penat dan ngumpulin tenaga buat perjalanan kembali ke Jakarta. Dalam perjalanan turun dari Saguling ke Raja Mandala, kami cukup puas ternyata banyak spot-spot menarik yang bisa dilihat sambil berkendara.
Arus balik belum begitu padat, lalulintas cukup lancar, jalur puncak satu arah mempercepat arus
menuju Ciawi. Sesampainya di Bogor, sekali lagi kami beristirahat untuk makan malam di Warung Bu Mimin, salah satu warung makan yang terletak berderet di sepanjang Jalan Pajajaran sebelum Terminal Baranangsiang.
Alhamdulillah, kami tiba dengan selamat sampai dirumah. Sebelum menutup artikel ini, ada satu yang saya dapat. Mudik jangan hanya dijadikan sebagai perjalanan rutin tahunan mengunjungi sanak famili di tanah kelahiran, tapi buatlah momen ini menjadi lebih menarik dan mempunyai nilai tambah.
Berbagi cerita dengan yang lain semoga bukan dianggap pamer melainkan wujud rasa bahagia bisa melihat Indonesia yang indah, dan semoga yang lain dapat merasakan apa yang kami alami.
Salam Nusantaride
Kembali ke Kawah Putih Situ Patenggang Sesi Mudik 2011 Episode 5

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Dedicated for Nusantaride | Designed by Info Mancing