Me_sulis

Wednesday, May 2, 2012

Ciwidey Kawah Putih Sesi Mudik 2011 Episode 4


Kawah Putih Ciwidey, keindahan alam Jawa Barat di selatan Bandung
Pagi-pagi sekali saya bangun, saya langsung menyiapkan kamera dan melangkah ke luar kamar. Udara dingin yang sejuk menerpa wajah saya yang belum tersentuh air. Saya bangunkan Dee untuk dapat menikmati sejuknya pagi. Mentari sebentar lagi terbit di ufuk timur. Tak akan kami sia-siakan keindahan fajar dari ketinggian Ciwidey.

 

Setelah sarapan pagi, Minggu 4 september 2011 pukul 6.30 wib berangkatlah kami ke lokasi Wisata Kawah Putih. Hanya 10 menit perjalanan dari Pondok Gembyang, gerbang loket kawah putih telah terlihat di sisi kiri. Petugas tiket meminta uang sebesar 35 ribu rupiah agar kami dapat masuk lokasi wisata tersebut, dengan rincian 2 x Rp.15.000,- ditambah tiket masuk kendaraan roda dua sebesar Rp. 5.000,-.


Jarak 5,6 km dari loket menuju lokasi Kawah Putih bagai tak terasa jauhnya. Jalan menikung dan menanjak yang dinaungi pepohonan hutan tropis serta rambu-rambu petunjuk yang jelas, membuat nyaman pengunjung yang menaiki kendaraan pribadi. Dreamer melaju sendirian membelah hutan. Sepagi ini yang naik masih jarang apalagi yang turun dari kawah Putih. Tepat pukul 7 kami sampai di area parkir Kawah Putih. Rupanya sudah banyak juga pengunjung yang datang ke sini. kira-kira 100 langkah lagi dari parkiran barulah keindahan Kawah Putih dapat dilihat.

Kami sama-sama kagum demi melihat keindahan Kawah Putih. Keindahan yang sulit saya rangkai menjadi kalimat.


Silahkan menikmati keindahan Kawah Putih pada gambar yang saya abadikan.

Sangat wajar jika dalam sebuah keindahan timbul ego-ego yang keluar dari dalam diri kami untuk sekedar berkata "Saya sudah pernah ke Kawah Putih". Ya jadinya beberapa foto narsis hadir menghiasi artikel ini.



Dan ini saya tampilkan kembali foto pohon tak berdaun yang mungkin sudah sering dilihat di internet.


Setelah puas menikmati keindahan pemandangan Kawah Putih, kami pun beranjak dari sana karena masih ada satu tujuan lagi yang berdekatan dengan lokasi wisata ini. Dalam perjalanan turun dari Kawah Putih, kami berhenti sebentar untuk merekam beberapa momen, sebelum tujuan mengarah ke Situ Patenggang.
Foto-foto pada jalan menuju Kawah Putih:



 

Sumedang Ciwidey Sesi Mudik 2011 Episode 3

Sekitar pukul 10 pagi Rabu tanggal 31 Agustus 2011 kami tiba di tujuan, di rumah keluarga istri di Desa Cileungsing Kecamatan Buah Dua Kabupaten Sumedang. Kebetulan sekali begitu turun dari motor, kami disambut oleh arak-arakan Kuda Renggong, salah satu kesenian khas Sumedang yang biasanya untuk mengarak panganten sunat.



Dekat Desa Cileungsing sendiri sebetulnya ada juga tempat-tempat wisata yang sudah sering kali kami kunjungi seperti: Wisata Pemandian Air Panas Cileungsing, Wisata Pemandian Mata Air Alami Cigirang & Wisata Pemandian Air Panas Conggeang.

Pemandian Air Panas Cileungsing
Pemandian Air Alami Cigirang

Setelah menginap 2 malam di Cileungsing, Sabtu tanggal 2 September 2011 pukul 13.00 wib, saya, Dee (istri saya) & Dreamer (my black GL200R) telah siap berangkat menuju Ciwidey Bandung. Rute yang dilalui adalah Conggeang - Legok - Sumedang - Jatinangor - Bandung By Pass - Soreang - Ciwidey.

Lebih dari 2 jam kami tempuh untuk sampai Ciwidey. Kemacetan Libur Hari Raya Idul Fitri mulai terlihat pada jalan yang menanjak dan kian mengecil. Bus-bus besar yang saling berpapasan menghalangi laju kendaraan lain karena harus memakai jalur jalan secara bergantian. Justru kemacetan inilah yang sangat menyita waktu.



Lelah mengantri kemacetan membuat kami memutuskan untuk menepi istirahat di tepi jalan untuk sekedar melepas dahaga dan merokok, tak lupa kami sempatkan untuk mengambil gambar.


Setelah 1 jam lebih berjuang menembus kemacetan, kami sampai di penginapan Pondok Gembyang. Sesuai rencana semula, istirahat dulu satu malam sebelum lanjut melihat keindahan kawah putih yang terkenal dan keindahan Situ Patenggang.

Bersambung ke Ciwidey Kawah Putih Sesi Mudik 2011 Episode 4

Jakarta Sumedang Sesi Mudik 2011 Episode 2

Masih di jalur alternatif penghubung pantura ini, di KM15, saya memperlambat laju motor sesaat melihat di depan banyak kendaraan roda dua menepi di kiri kanan jalan. Rupanya terjadi kecelakaan tunggal, sebuah sepeda motor berboncengan dari arah Indramayu jatuh di tikungan dan menghantam pohon di sisi jalan. Walau sudah banyak yang berhenti untuk menolong, kami tetap ikut berhenti melihat keadaan korban. Untungnya tidak ada luka berarti, hanya baret-baret saja. Anehnya, dalam 30 menit terjadi lagi 3 kecelakaan serupa pada tikungan yang sama. 4 motor yang jadi korban, 2 masih bisa dikendarai sedang 2 lainnya harus dibawa ke bengkel. Saya dan istri menunggu selama 2 jam di tempat kejadian menemani para korban dan membantu mencarikan mobil bak buat mengangkut motor ke bengkel.

Sebelum beranjak dari lokasi yang aneh ini, saya coba jalanin jalur tersebut. Saya perhatikan, tikungan tidak terlalu tajam tapi permukaan jalan kemiringannya hampir rata dan sisi jalan jauh lebih tinggi dari permukaan tanah sehingga terlihat seperti lubang. Sementara analisa saya secara logika, kemungkinan saat pengendara memasuki tikungan, ada kecenderungan tekor akibat kemiringan jalan kemudian kaget melihat sisi jalan yang menganga dan spontan mengerem laju kendaraan yang hasilnya malah motor sulit untuk dibelokkan. Sayang saya terlupa menurunkan kamera untuk merekam suasana jalan tersebut.

Hasil tanya-tanya dengan penduduk setempat, katanya tikungan tersebut sudah terkenal keangkerannya, terutama di sebuah pohon besar di sisi jalan. Mereka bahkan mengatakan, hari kemarin disaat jalur padat malah 10 pengendara motor yang terperosok. Dulu ada rambu peringatan bahaya tapi sudah dicabut oleh tangan-tangan jahil. Waduh!

Sebenarnya 1 km dari situ ada jalan tembus menuju Buah Dua, namun saya putuskan untuk melewati jalur tersebut hingga Cikawung. Lewat sini, kami temui jalan beton yang lurus sepanjang 10 km. Sampai Cikawung ambil jalur yang ke kanan ke arah Cijelag menuju Sumedang.


Di jalan Cijelag memasuki Ujung Jaya, kami belok ke kanan ambil jalan pintas menuju Conggeang. Lumayan mempersingkat jalan ketimbang melewati pertigaan Cijelag masuk Tomo dan belok kanan di Legok untuk kemudian menuju Conggeang. Ternyata jalan ini rusak berlobang tapi masih bisa dijalani roda dua dengan kecepatan sedang. Tak jauh dari pertigaan Ujung Jaya, saya melihat jalan bercabang, di kanan jalan ada jalan tanah agak mananjak yang menggoda untuk di lewati. Kebiasaan penduduk/petani di sana membuat jalan pintas melalui ladang dan hutan jati. Tanpa tanya-tanya boncenger, saya masuki jalan tanah tersebut hingga menaiki bukit. Tapi kok jalan ini terus membelok dan arahnya ke utara lagi sedangkan tujuan kami ke selatan. Daripada sia-sia, apalagi sudah terlambat tiba ditujuan dan belum sungkeman dengan mertua. Saya balik arah lagi menuju jalan tadi.




Kami kembali menelusur jalan aspal berlobang menuju Conggeang. Jalan yang kering berdebu dalam cuaca terik panas serta melewati hutan-hutan jati dan ladang-ladang yang kering, membuat kami ingin segera sampai tujuan. Kondisi ekstrim di sini nanti akan berbeda setelah memasuki wilayah kaki Gunung Tampomas yang subur. Sampai di pertigaan pasar Conggeang, kami belok ke kanan ke arah Buah Dua. Kami sampai di tujuan hampir pukul 10 siang. Perjalanan yang biasa kami tempuh selama 4 jam tapi kali ini melorot hingga 7 jam. Tapi kami puas, karena ada hikmah dan pelajaran yang dapat kami ambil.

Tambahan foto: sesuatu yang sulit kita dapatkan di kota:
Air bersih dari mata air yang selalu mengalir

Kolam-kolam berisi ikan-ikan yang jinak

Sejoli Bebek

Serabi oncom

Gunung Tampomas

Tuesday, May 1, 2012

Jakarta Sumedang Sesi Mudik 2011 Episode 1

Ini share RR pertama saya untuk Nusantaride, semoga berkenan.

Bismillah. Banyak masukan yang saya dapat dari teman-teman Nusantaride bagaimana menulis Ride Report. Kayaknya asik juga dan malah ada keinginan menuliskannya menjadi sebuah personal blog. Hehehe akhirnya terwujud juga di sini, bisa punya blog kayak teman-teman.

Kalau kata Om Luckay De Hard Rijder, momen mudik lebaran adalah saat yang pas untuk melakukan perjalanan berkendara. Disamping waktu libur yang panjang juga ada dana tambahan yang diperoleh setiap hari raya.

Jadinya libur lebaran 2011 ini kami putuskan buat mudik sekaligus jalan-jalan berkendara. Sayangnya menjelang hari H, boncenger saya Dee, Sang Mantan Pacar (baca: Istri) masih ada pekerjaan di Hari Pertama Lebaran, belum lagi Keputusan Pemerintah yang menunda sehari tanggal Hari Raya Pertama Idul Fitri. Wah, semakin pendek saja waktu yang kami dapat. Jadinya rencana semula ingin mudik hingga Wonosari Jogja ditunda, ke Sumedang saja, nanti kita cari tempat-tempat wisata sekitar Bandung Selatan yang belum pernah kami kunjungi.

31 Agustus 2011, tepat pukul 3 Rabu dini hari, kami berangkat berbekal peta tujuan yang sudah ada di kepala dan mulut buat bertanya. Dreamer, julukan buat Tiger GL200R Hitam yang kami pakai, membelah pagi Jakarta melaju ke arah timur. Masih banyak pemudik menggunakan R2 di sepanjang jalan yang kami tempuh. Beberapa dari mereka yang ber-atribut sesekali menyusul dan menyapa kami. Lebih kurang 2 Jam perjalanan, tibalah kami di Sadang. Di ruas Sadang - Subang ini kami sempatkan untuk beristirahat selama 1 jam untuk sholat subuh, minum kopi dan sarapan pop-mie di SPBU Cimaung.

Perjalanan kami lanjutkan menuju kota Subang. Pagi yang dingin dan sepinya jalan jadi melenakan saya, ditambah lagi kantuk sepertinya mulai menyerang. Rencana melewati jalan dalam kota Subang menuju Cagak batal karena tahu-tahu kok sudah sampai Cinangsi. Ya sudah lewat Sanca saja deh, pikir saya. Kami berhenti sebentar menepi di dekat gerbang Selamat Datang di Kota Subang.


Sinar mentari pagi  menyinari jalan yang lurus seolah membentuk jalan ke nirwana dan hamparan hijau persawahan mengusik kami untuk mengabadikan momen yang indah.




Itulah asiknya berkendara solo, lebih leluasa menikmati keindahan alam sepanjang perjalanan. Jalur Subang Indramayu ini di dominasi trek-trek lurus dengan kondisi jalan lumayan mulus, sesekali disisipi satu dua tikungan ringan. Kondisi alam di sini bervariasi antara daerah persawahan yang subur dan hutan-hutan jati pada lahan yang kering.

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Dedicated for Nusantaride | Designed by Info Mancing